Tipu Muslihat Philip Morris sebagai Kapitalis Global


Periode antara tahun 1980 hingga 1990 menjadi masa keemasan bagi industri tembakau Amerika Serikat. Nilai saham perusahaan tembakau menjadi primadona di lantai bursa Wall Street. Namun tak lama berselang, dinamika kompetisi produk dan penguasaan pangsa pasar menunjukkan industri tembakau di Amerika telah mencapai stagnasi atau tingkat jenuh.

Dalam ekonomi makro, kondisi ini dikenal sebagai siklus usaha atau konjungtur ekonomi. Ketika gerak roda industri telah mencapai stagnasi, itu juga dapat diterjemahkan bahwa industri tersebut berada pada situasi krisis. Ekonomi kapitalisme telah mengelu-elukan pertumbuhan sebagai roh dari dinamikanya. Tanpa pertumbuhan, dinamika industri tidak ada artinya.

Agenda ekspansi global adalah langkah selanjutnya untuk menghadapi krisis yang diakibatkan stagnasi industri tembakau di Amerika. Ekspansi global tidak saja bermakna pada perluasan usaha di tingkat global, tapi juga menciptakan ruang pertumbuhan bagi kapitalisasi industri tembakau global. Untuk bisa menguasai peluang tersebut, sumber daya global pun dikonsolidasikan berada pada satu integritas kepentingan yang solid.

Di sinilah kemudian muncul tipu muslihat oleh para kapitalis global. Philip Morris International (Altria Group), British American Tobacco (BAT), dan Japan Tobacco memprakarsai sebuah komitmen bersama untuk berada pada arus tren anti-tembakau yang disebut Project Cerberus. Dalam mitologi Yunani, Cerberus adalah hewan berwujud anjing raksasa berkepala tiga, seperti yang ditampilkan dalam film Harry Potter episode pertama. Julukan itu sangat tepat untuk menggambarkan ketiga raksasa industri tembakau yang berada pada satu konsolidasi kepentingan.

Standar itu merupakan sebuah ketentuan etika terhadap kesepakatan bersama dalam menjalankan kegiatan pemasaran oleh ketiga anggota Project Cerberus dalam operasinya di seluruh dunia. Ini meliputi informasi bagi konsumen, praktik pemasaran, praktik perdagangan dan riset, serta pengembangan produk baru. Itu semua sejalan dengan ketentuan-ketentuan di Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Dalam perkembangannya, sebagai rumusan kesepakatan Project Cerberus, standar itu memberikan dampak positif bagi tujuan ekspansi global. Seakan-akan sejalan dengan agenda pengendalian tembakau, raksasa Project Cerberus ikut mendorong tekanan yang dihasilkan FCTC bagi para pelaku industri tembakau domestik. Lewat tekanan FCTC, kehancuran para pelaku industri tembakau domestik di negara-negara operasinya akan mendorong terbukanya peluang pertumbuhan dari pangsa pasar yang ditinggalkan.

Ketetapan dalam Project Cerberus kemudian diterapkan Philip Morris di Indonesia. Lewat PT HM Sampoerna yang telah diakuisisi sepenuhnya pada 2009, Philips Morris mendukung penuh agenda anti-tembakau yang didesakkan ke dalam regulasi nasional Indonesia oleh gerakan anti-tembakau yang didukung pendanaan Bloomberg Initiative to Reduce Tobacco Use. Bahkan, melalui Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), suatu lembaga bentukan Sampoerna, mereka secara simultan ikut berpartisipasi dalam mendukung pembentukan regulasi anti-tembakau di negara ini. Selain itu, Sampoerna juga memprakarsai program penyuluhan bagi remaja untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya merokok.

Sangat menarik, mengamati sepak terjang Philips Morris sebagai pemimpin pasar rokok dunia sejalan dengan agenda anti-tembakau. Apabila dilihat dari kacamata logika biasa, hal tersebut bertentangan dengan kepentingan sebuah perusahaan tembakau yang ikut mendiskreditkan nilai produk yang pasti akan membahayakan prospek bisnis mereka. Namun apabila dikaji lebih mendalam, tindakan Sampoerna dalam perspektif strategis bisa diacungi jempol. Paling tidak ada tiga manfaat yang bisa didapat dari apa yang mereka laksanakan, yang memberikan keuntungan jangka pendek ataupun jangka panjang.

Pertama, posisi sebagai pemimpin pasar di industri tembakau menempatkan Philips Morris/Sampoerna sebagai representasi dari industri yang kemudian mendapat prioritas dalam pembicaraan terkait regulasi mewakili kepentingan industri. Posisi ini digunakan untuk tetap menjaga kepentingan mereka dalam tercapainya tujuan ekspansi global, yaitu membuka peluang pertumbuhan di Indonesia bagi diri dan mitra-mitra mereka dalam Project Cerberus.

Kedua, lewat prakarsa program mencegah remaja untuk merokok, Philips Morris/Sampoerna sesungguhnya melakukan investasi “awareness” terhadap calon pelanggan di segmen remaja. Ini agar, ketika beranjak dewasa, konsumen mampu menggunakan hak yang didorong oleh perspektif “prochoice” yang menjadi salah satu nilai dari masyarakat modern. Paling tidak persepsi produk yang dikenal adalah produkproduk milik Philips Morris/Sampoerna yang memiliki kredibilitas “moral” dan kualitas yang akan memengaruhi konsumen potensial menentukan pilihan produk mereka.

Ketiga, kredibilitas dan tingkat kepercayaan yang dibangun bagi konsumen dan publik secara luas melalui perhatian mereka pada kepentingan publik dan generasi muda ikut membangun kepercayaan investasi terhadap nilai aset mereka di pasar modal.






0 Response to "Tipu Muslihat Philip Morris sebagai Kapitalis Global"

Posting Komentar