Mengungkap Tabir Dibalik Penutupan Pabrik SKT Sampoerna




Tanggal 31 Mei 2014 Sampoerna menutup dua pabrik SKT mereka di Jember dan Lumajang. Penutupan pabrik tersebut menyebabkan sekitar 4.900 buruh pabrik di-PHK secara sepihak. Sampoerna beralasan langkah itu diambil seiring dengan  rencana untuk merestrukturisasi operasional pabrik Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang dianggap merugikan Sampoerna.

Sampoerna sah sah saja alasan apapun. Namun fakta di lapangan menyebutkan jika Sampoerna adalah pemimpin pasar SKT. Brand SKT Sampoerna lebih kuat dibanding perusahaan SKT lainnya. Laporan Tahunan Sampoerna pada 2013 menunjukkan bahwa secara kesuluruhan unit bisnis mereka mengalami pertumbuhan meskipun pangsa pasar SKT Sampoerna menurun.

Sampoerna membukukan penjualan bersih sebesar Rp 75 triliun sepanjang 2013. Naik 12,6 persen dibandingkan penjualan bersih pada 2012. Selain itu, tahun lalu perseroan juga meningkatkan volume produksi sebesar 3,4 persen menjadi 111,3 miliar batang. Bagaimana mungkin Sampoerna menutup pabrik dengan alasan mengalami kerugian padahal dividen tahun 2012 mencapai Rp9,95 triliun?

Alasan menutup pabrik karena redupnya pasar SKT bisa jadi hanyalah akal-akalan Sampoerna saja. Dibalik alasan kurang logis itu, Sampoerna sejatinya hanya ingin mengefisiensi pekerjanya saja mengingat proses produksi SKT memang membutuhkan jumlah pekerja yang banyak. Alasan lain yang lebih masuk akal tentu Sampoerna punya keinginan untuk memperbesar segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Rokok Putih mereka.

Dugaan itu terbukti. Tak lama berselang setelah penutupan dua pabrik SKT di Jember dan Lumajang, Philip Morris Indonesia alias Sampoerna membangun dua pabrik kretek mesin di Karawang, Jawa Barat. Nilai investasi di dua pabrik tersebut ditaksir sebesar US$ 174 juta atau sekitar 2 triliun rupiah. Dua pabrik itu rencananya akan diproyeksikan untuk memproduksi rokok kretek mesin dan rokok putih.

Sampoerna berniat melakukan peningkatan kapasitas produksi Marlboro untuk pasar domestik dan ekspor, khususnya pasar Asia Pasifik. Di 2012, nilai ekspor produk tembakau dari PMID dan Sampoerna mencapai angka US$ 24 juta dan diharapkan akan meningkat sedikitnya dua kali lipat di tahun ini menyusul adanya penambahan kapasitas produksi.

Dua pabrik baru milik Sampoena itu mulai beroperasi secara penuh pada 2014. Karena memang berorientasi pada mesin, sehingga tak banyak tenaga pekerja manusia yang direkrut oleh Sampoerna. Mereka hanya mempekerjakan tak lebih dari 600 orang saja. Angka itu tentu sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah buruh pabrik SKT di Jember dan Lumajang yang di-PHK Sampoerna sebelumnya. Ini sekaligus jadi bukti juga kalau Sampoerna sejak awal memang punya niatan mengefisiensi pekerjanya.





0 Response to "Mengungkap Tabir Dibalik Penutupan Pabrik SKT Sampoerna"

Posting Komentar