Kepentingan Sampoerna dalam Simplifikasi Cukai Rokok


Isu simplifikasi cukai rokok belakangan menjadi obrolan hangat di kalangan stakeholder pertembakauan. Simplifikasi atau bisa dimaknai sebagai penyederhanan tingkatan (layer) tarif cukai rokok memang syarat kepentingan. Karena dengan simplifikasi, pabrikan rokok kecil akan dipaksa bersaing secara terbuka dengan perusahaan rokok besar. Akibatnya, lambat laun bisa dipastikan pabrikan rokok kecil satu persatu bakal tumbang.

Logika sederhananya begini. Simplifikasi akan sangat menguntungkan bagi pabrikan rokok besar – khususnya bagi perusahan rokok multinasional sebagai produsen rokok putih yang sejauh ini dikenai tarif cukai paling tinggi – karena produk mereka akan dikenai tarif cukai yang setara dengan pabrikan rokok kecil. Ketika tarif cukai setara, produk mereka tentu harga jualnya akan setera juga dengan produk pabrikan rokok kecil.

Ketika harga jual produk bisa setara, konsumen tentu akan memilih produk dari pabrikan rokok besar yang secara cita rasa maupun brand jauh lebih unggul dari rokok keluaran pabrikan kecil. Pangsa pasar pabrikan rokok kecil bisa dipastikan akan tergerus tajam. Pabrikan rokok kecil hanya tinggal mengunggu waktu untuk gulung tikar.

Lalu, siapa sebenarnya aktor dibalik munculnya isu simplifikasi cukai rokok? Jawabannya adalah Sampoerna!

Isu simplifikasi sudah digaungkan oleh Sampoerna sejak tahun 2015. Sampoerna selalu melobi pemerintah agar kebijakan simplifikasi segera diterapkan. Dalam isu simplifikasi yang digaungkan oleh Sampoerna, di dalamnya berisi mengenai penggabungan batas produksi dan tarif cukai antara kretek dan rokok putih. Samporna juga mendorong agar layer atau golongan tarif cukai rokok yang ada saat ini dipangkas menjadi sesedikit mungkin.

Lobi Sampoerna terkait simplifikasi terbukti membuahkan hasil. Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan simplifikasi tarif cukai rokok mulai 2018 hingga 2021. Pada 2018, tarif cukai produk tembakau itu disederhanakan dari 12 menjadi 10 layer. Tahun ini, jumlah layer kembali dipangkas hingga hanya menjadi 8. Penyederhanaan dilanjutkan pada 2020 menjadi 6 layer dan akhirnya tinggal 5 layer pada 2021.

Secara kasat mata, simplifikasi seolah menjadi kebijakan yang sangat adil. Namun pada kenyataanya, kebijakan yang dirasa “adil” itu ternyata memuat makna ketikdakadilan serta hilangnya perlindungan pemerintah terhadap pabrikan rokok kecil yang notabene produsen kretek.  





0 Response to "Kepentingan Sampoerna dalam Simplifikasi Cukai Rokok"

Posting Komentar