Sampoerna Membela Kepentingan Asing


Tanggal 31 Mei 2014 perusahaan rokok PT HM Sampoerna Tbk resmi menutup dua pabrik Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Jember dan Lumajang. Akibatnya, sekitar 4.900 pekerja dirumahkan (PHK). Kebijakan itu diambil tepat diambil pada peringatan hari Tanpa Tembakau Dunia.

PT HM Sampoerna Tbk beralasan bahwa penutupan pangsa pasar produk SKT belakangan kian menurun. Maharani Subandhi, sekretaris PT HM Sampoerna Tbk menyebutkan jika kebutuhan pasar terhadap rokok jenis SKT terus mengalami penurunan secara kuantitas.

Pernyataan itu nampaknya bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Trend rokok kretek sejatinya masih bagus. Kebutuhan pasar akan rokok kretek masih sangat tinggi. PT HM Sampoerna Tbk sepertinya hanya ingin melakukan efisiensi perusahaan dan ada niat terselubung untuk menghancurkan kretek itu sendiri.

Misal benar ada penurunan permintaan pasar terhadap rokok jenis SKT, PT HM Sampoerna Tbk tetap tidak akan goyah. Justru yang akan terkena langsung dampaknya adalah pabrikan lain yang secara posisi berada di bawah PT HM Sampoerna Tbk. Laporan Tahunan HMS 2013 menunjukkan secara kesuluruhan portofolio HMS mengalami pertumbuhan meskipun SKT Sampoerna mengalami penurunan. Bahkan Sampoerna mengakui, portofolio SKT Sampoerna mempertahan posisi teratas di segmen SKT.

Ada asumsi yang menyebutkan pula bahwa PT HM Sampoerna Tbk mengalami kerugian akibat menurunnya serapan pasar terhadap rokok jenis SKT. Hal itu jelas sangat tidak berasalan jika kita melihat jumlah deviden PT HM Sampoerna Tbk di tahun 2012. Mana mungkin perusahan rugi sementara deviden mereka sebesar 9,95 Triliun rupiah.

Asumsi dangkal serta alasan yang tidak masuk akal dari PT HM Sampoerna Tbk terkait penutupan dua pabrik SKT tersebut kemudian memunculkan dugaan-dugaan skenario besar dari mereka. Penutupan dua pabrik diikuti dengan PHK masal diduga sebagai skenario PT HM Sampoerna Tbk untuk mengganti kretek menjadi rokok putih mengingat Sampoerna kini dibawah kendali Philip Morris.

Dugaan ini diperkuat dengan dukungan Sampoerna pada Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 yang memuat aturan mengenai standarisasi tembakau. Dengan standarisasi tembakau itu kan rokok putih makin bebas, dan SKT makin tergerus, tidak heran kalau Sampoerna mulai menutup pabrik SKT. Dan kasusu turunnya konsumsi SKT ini menjadi momentum bagi Sampoerna untuk memulai mengikis kretek.

Philip Morris melalui Sampoerna ingin untuk mengubah produksi SKT menjadi Sigaret Kretek Mesin (SKM) atau rokok putih, yang tidak memerlukan banyak tenaga kerja. Terlebih lagi, Sampoerna berkepentingan untuk memperluas pangsa rokok putih Philip Morris International di Indonesia. Dan kali ini buruh yang menjadi korban dari rencana rencana besar penghancuran Kretek Indonesia, dan kepentinganya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan memproduksi rokok SKM.









0 Response to "Sampoerna Membela Kepentingan Asing"

Posting Komentar