Politik Dagang Rokok Putih Ala Sampoerna (2)





Sampoerna menjadi satu-satunya perusahaan rokok yang mendorong adanya kebijakan simplifikasi (penggabungan) tarif cukai rokok serta jumlah produksi Kretek dan Putih di Indonesia. Selama ini mereka selalu beralasan simplifikasi diperlukan untuk memberikan perlindungan terhadap kretek tangan.

Realita yang terjadi justru sebaliknya. Sampoerna tidak pernah peduli dengan nasib kretek tangan. Seperti yang kita ketahui bersama, pada 31 Mei 2014 Sampoerna malah menutup dua pabrik kretek tangan di Lumajang dan Jember. Dampaknya tentu ada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 karyawannya. Fakta tersebut menunjukkan jika apa yang dikatakan Sampoerna terkait perlindungan terhadap kretek tangan adalah omong kosong.

Jika mau dilihat lebih jernih, di balik itu semua, alasan Sampoerna mendorong simplifikasi cukai sejatinya agar rokok putih tidak terkena beban lebih berat dalam hal tarif cukai. Dengan adanya simplifikasi cukai, Sampoerna juga berharap dapat menggenjot produksi rokok putih mereka. Harapan besarnya tentu Sampoerna berkeinginan agar membuka pangsa pasar rokok putih sebesar-besarnya di Indonesia.

Jadi, apa itu simplifikasi cukai? Sederhananya begini. Sesuai dengan makna dasar kata simplifikasi, yakni ada penyederhanaan tarif cukai alias menyamaratakan seluruh harga tarif cukai di berbagai jenis dan layer rokok yang diproduksi oleh seluruh pabrik.

Namanya memang simplifikasi tapi justru menghadirkan berbagai problem yang membuat kebijakan itu tak lagi dipandang simpel. Secara logika, bagaimana mungkin produk rokok yang dengan harganya sifatnya premium harus disamakan cukainya dengan rokok kelas bawah yang banyak diproduksi oleh pabrikan-pabrikan kecil.

Simplifikasi tentu hanya akan menguntungkan pabrikan besar saja. Dari adanya simplifikasi cukai, maka konsumen akan berbondong-bondong membeli rokok yang premium, ketimbang kelas bawah. Lagi-lagi soal urusan harga, ketimbang beli yang level bawah yang harganya juga mahal, mending beli rokok premium yang sama-sama mahal namun punya cita rasa selevel lebih baik.

Di sini pabrikan kecil akan kelimpungan dalam penyesuaian harga. Ini bukan bicara soal rokok murah, bagaimana pun cukai rokok terkadang memang harus naik mengiringi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun, tarif progresif dan simplifikasi akan menghancurkan sisi lain ekonomi di Indonesia yaitu pelaku usaha mikro, yang memang jadi pondasi majunya ekonomi sebuah bangsa.







0 Response to "Politik Dagang Rokok Putih Ala Sampoerna (2)"

Posting Komentar