Mencari Untung di Indonesia, Dinikmati oleh Asing




Sejak diakuisisi oleh Philip Morris, Sampoerna secara otomatis bukan lagi sebagai perusahaan dalam negeri. Sampoerna menjadi perusahaan multinasional yang tentu saja semua keuntungannya akan diarup oleh perusahan induk mereka yakni Philip Morris. Artinya, keuntungan dari geliat bisnis Sampoerna muaranya berada di Amerika Serikat.

Sebagai sebuah perusahaan penguasa bisnis rokok di Indonesia, Sampoerna tidak cukup yakin dengan masa depan bisnisnya. Banyak pengamat ekonomi yang menyebut Sampoerna sebagai pohon emas. Bagi pengamat ekonomi, adalah sebuah blunder besar ketika pohon emas malah dipindahtangankan. Meski demikian, Sampoerna nyatanya tetap goyah dan melepas begitu saja saham mereka ke Philip Morris. 

Kini, Philip Morris mulai merasakan betul betapa melimpahnya hasil dari keputusan mereka mengakuisisi Sampoerna. Tidak perlu waktu lama bagi Philip Morris untuk mengembalikan bahkan melipatgandakan modal yang mereka gelontorkan untuk mengambil alih Sampoerna.

Data menyebutkan, pendapatan Sampoerna dari tahun ke tahun selalu menunjukkan trend yang positif. Data terbaru menyebutkan jika pendapatan Sampoerna sepanjang 2018 mencapai Rp 106,74 triliun. Angka ini naik 8% dari periode yang sama di tahun 2017 yakni sebesar Rp 99,09 triliun.

Berdasarkan data yang diperoleh Fortune, Philips Morris International pada tahun 2018 diketahui mencatatkan pendapatan mencapai US$ 29,62 miliar atau sekitar Rp 421 triliun. Sementara itu, keuntungan atau profit yang dibukukan mencapai US$ 7,91 miliar atau sekitar Rp 112 triliun.

Lagi-lagi, kita sebagai bangsa Indonesia hanya bisa jadi penonton di rumah sendiri. Angak di atas tak lebih dari sekedar data belaka. Keuntungan besar Sampoerna tetap saja akan dibawa ke luar negeri karena sahamnya dimiliki oleh Philip Morris yang berkantor pusat di 120 Park Ave., New York City, New York, Amerika Serikat.







0 Response to "Mencari Untung di Indonesia, Dinikmati oleh Asing"

Posting Komentar