Manuver Sampoerna Memonopoli Industri Rokok Indonesia



Praktek monopoli usaha yang dilakakukan pabrik rokok besar kian mengkhawatirkan, khususnya oleh PT HM Sampoerna. Sejak dikuasai oleh perusahaan asing Philip Morris pada tahun 2005 silam, Sampoerna semakin getol melakukan berbagai macam manuver untuk menguasai bisnis rokok di Indonesia, termasuk indikasi keterlibatan mereka dalam penyusunan beberapa kebijakan publik.
PP 109 tahun 2012 dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 200 tahun 2011 sangat kental dengan nuansa monopoli usaha. Beberapa poin yang tertuang dalam PP 109 tahun 2012 disinyalir sangat menguntungkan bagi PT HM Sampoerna mengingat meraka sudah punya instrumen lengkap untuk menerapkan aturan tersebut.

Semntara itu, di sisi lain, pabrikan rokok menengah ke bawah tentu gelagapan untuk memenuhi syarat dan ketentuan dalam PP 109 tahun 2012. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka yang terpaksa menyerah dan tidak mampu bersaing lagi di bisnis rokok.

Sama halnya dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 200 tahun 2011 tentang aturan batas minimum Lahan Industri Rokok. Aturan tersebut menyebutkan jika Lahan Industri Rokok adalah minimal 200 meter persegi. PT HM Sampoerna tentu akan dengan sangat mudah lolos aturan tersebut. Beda halnya dengan pabrikan kecil yang akan otomatis gulung tikar karena tidak mampu memenuhi standar yang ditentukan.

Kepala Dinas Perinstrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur Budi Setiawan membenarkan perihal dampak dikeluarkannya PMK No 200/2011. Dia menyebutkan jika banyak industri rokok yang mempunyai lahan kurang dari 200 meter persegi di Jawa Timur terpaksa gulung tikar.

Terkait hal itu, pemprov Jawa Timur sempat melakukan protes kepada pemerintah pusat. Tetapi sama sekali tidak dihiraukan. Protes Jawa Timur tentu sangat beralasan mengingat Jawa Timur masuk dalam daerah kawasan industri rokok potensial. Pemprov Jawa Timur mempertanyakan mengapa harus ada PMK 200/2011 yang sangat merugikan industri rokok kecil.

Disperindag Jawa Timur juga menjelaskan bahwa dampak dari PMK 200/2011 juga dirasakan petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Banyak petani yang biasanya lahannya ditanami tembakau terpaksa beralih pada tanaman lain. Banyaknya perusahan rokok menengah ke bawah yang gulung tikar menyebabkan munculnya banyak pengangguran baru.

Dari dua contoh kasus di atas, sangat jelas menunjukkan bahwa PT HM Sampoerna sangat lihai melakukan berbagai macam manuver guna memonopoli bisnis rokok. Selain kerap kali diuntungkan oleh kebijakan, PT HM Sampoerna dengan modal yang tak terbatas juga bisa melakukan banyak manuver usaha guna menjegal berkembangnya produsen rokok menengah ke bawah.






0 Response to "Manuver Sampoerna Memonopoli Industri Rokok Indonesia"

Posting Komentar