Tembakau Unggulan Dari Pulau madura

Pada saat ini, Industri Hasil Tembakau (IHT) membutuhkan sekitar 85 persen produk tembakau lokal sebagai bahan baku. Bahan baku lokal tembakau itu salah satunya berasal dari pulau Madura. Sejarah pernah mencatat bahwa sejak jaman kolonial Pulau Madura menjadi salah satu sentra penghasil tembakau unggulan di negeri ini. Karena ketersediaan lahan dan kondisi tanahnya sangat cocok ditanami oleh tanaman tembakau. Bahkan di jaman kolonial itu pula para ahli tanaman tembakau dari Madura ada yang dikirim ke Deli Serdang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, dan Banyuwangi untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan tembakau yang baru dibuka oleh Belanda.

Kondisi lahan dan tanahnya yang cocok dengan tanaman tembakau membuat Pulau Madura menghasilkan begitu banyak jenis tembakau lokal. Setiap wilayah menghasilkan tembakau yang berbeda-beda jenisnya. Tetapi sejak pihak pabrikan rokok kretek meminta spesifikasi kualitas tertentu terhadap tembakau Madura maka seleksi kualitas unggulan terhadap tembakau Madura pun dilakukan.

Saat ini terdapat tiga jenis tembakau yang telah memenuhi standar kualitas pabrikan yang ditanam di Pulau Madura yakni Prancak-95, Cangkring-95, dan Prancak N-1. Semua jenis tembakau itu dikontrol langsung oleh Departemen Pertanian di bawah pengawasan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (BALITTAS).

Varietas tembakau yang mula-mula dikembangkan oleh BALITTAS dari berbagai varietas lokal Madura adalah Prancak-95 dan Cangkring-95.

Dua tembakau ini resmi dikeluarkan berdasar keputusan dari SK Mentan No.731/Kpts/TP.240/7/97 dan SK Mentan No.732/Kpts/TP.240/7/97. Sedangkan Prancak-95 dikembangkan lagi menjadi varietas Prancak N-1 dengan cara disilangkan dengan tembakau oriental agar menghasilkan tembakau beraroma khas, bernikotin rendah, dan memenuhi standard rokok kretek. Prancak N-1 resmi dikeluarkan lewat keputusan SK Mentan No.320/Kpts/SR.120/5/2004.

Daun tembakau Prancak-95 berbentuk bulat telur dengan tampilan permukaan mengerucut. Tepian daunnya rata. Satu batang tanaman tembakau Prancak-95 menghasilkan 12 hingga 18 helai daun. Dalam masa tanaman 54 hingga 74 hari Prancak-95 akan berbunga dan siap panen saat berusia 84 hingga 104 hari usai masa tanam. Dalam satu hektar lahan yang ditanami Prancak-95 menghasilkan tembakau rajangan sebanyak 813 kilogram. Indeks mutu mencapai 83,47 dengan ketahanan terhadap penyakit sangat tinggi.

Sementara Cangkring-95 memiliki tampilan keseluruhan tanaman berbentuk kerucut dengan penampakan daun tengahnya lonjong dengan tepian daun rata. Mirip dengan Prancak-95. Dalam satu batang tanaman Cangkring-95 terdapat antara 12 hingga 17 helai daun. Dalam usia antara 51 hingga 68 hari usai masa tanam Cangkring-95 akan berbunga dan siap petik pada usia 81 hari hingga berakhir sekitar 94 hari. Dalam satu hektar lahan yang ditanami Cangkring-95 akan menghasilkan 667 kilogram tembakau rajangan dengan indeks mutu 81,84. Cangkring-95 cukup tahan terhadap hama penyakit.

Sedangkan varietas Prancak N-1 memiliki perbedaan pada tepian daunnya yang bergelombang. Sementara tampilan permukaan daunnya sama dengan dua jenis varietas sebelumnya yakni mengerucut. Setiap batang tanaman tembakau Prancak N-1 memiliki jumlah  antara 13 hingga 15 helai daun dan akan berbunga pada usia 56 hingga 58 hari usai masa tanam. Prancak N-1 siap dipetik pada usia 84 hingga 90 hari usai masa tanam. Satu hektar lahan yang ditanami Prancak N-1 menghasilkan 892 tembakau rajangan. Sama seperti Cangkring-95, Prancak N-1 juga tahan terhadap hama penyakit.

Ketiga jenis varietas ini menjadi tanaman tembakau unggulan yang dihasilkan dari Pulau Madura. Namun seiring perkembangan selera rokok kretek di negeri ini, tentu akan memacu inovasi, pembaharuan jenis varietas tanaman tembakau yang lebih berkualitas, yang tahan terhadap penyakit, juga kuantitas produksi tanaman tembakau yang terjaga,  dan menjadi titik pijak bagi munculnya varietas-varietas baru yang bibitnya diambil dari beragam jenis tembakau lokal Madura.





0 Response to "Tembakau Unggulan Dari Pulau madura"

Posting Komentar