Belajar Tentang Perda KTR dari Surabaya

Dalam beberapa tahun terakhir, Perda KTR menjadi salah satu perda yang banyak digodok oleh beberapa kota dan kabupaten di Indonesia. Perda ini dianggap sebagai solusi pintas untuk mengurangi konsumsi rokok, utamanya untuk anak-anak di bawah umur.

Dalam urusan perda KTR, Bogor kerap menjadi kota yang menjadi rujukan bagi banyak daerah. Maklum, sebab Bogor memang menjadi kota yang mengawali tren Perda KTR ini.

orang merokok

Sayang, penerapan Perda KTR di Bogor nyatanya justru menyalahi aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat.

Seperti diketahui, peraturan daerah KTR yang dikeluarkan harus tidak bertentangan dengan UU 36 Tahun 2009 dan PP 109 Tahun 2012. Acuan ini tak boleh dilanggar, namun Kota Bogor melakukan Perda KTR yang melarang pemajangan rokok di display toko-toko ritel dan pasar-pasar tradisional. Rokok harus ditutup dengan kain dan ditulis produk untuk 18 tahun keatas. Padahal kita sama-sama tahu dalam produk rokok aturan penggunaan produk tersebut sudah dicantumkan. Penggunaan penutup dengan tirai atau kain pada display produk rokok bisa mematikan para pengusaha toko ritel karena produknya menjadi susah laku.

orang merokok

Kedua, Kota Bogor, dan juga beberapa daerah lainnya masih kurang membuat ruang khusus untuk merokok.

Perlu diketahui bahwa aktivitas merokok adalah legal dan dilindungi oleh Undang-Undang. Jadi peraturan soal KTR di beberapa daerah tersebut tak adil bagi para perokok. KTR boleh diberlakukan jika sudah ada penyediaan ruang merokok yang memadahi.

Dalam hal ini, rasanya banyak daerah yang seharusnya belajar banyak dari Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya boleh dibilang cukup baik dalam menerapkan KTR.

kopi dan rokok

Salah satu yang dilakukan Ibu Risma sebagai walikota di Surabaya adalah menambah kawasan-kawasan merokok. Ia juga melengkapi Kawasan tersebut dengan fasilitas-fasilitas bagi perokok, seperti tempat pembuangan puntung rokok. Ia ingin menjadikan Surabaya kota bersih, baik dari polusi kendaraan dengan memperbanyak taman dan tumbuhan hijau, beliau juga koncern terhadap sampah.

Hal-hal kecil seperti inilah yang seharusnya bisa dijadikan contoh di kota ataupun daerah lainnya di Indonesia untuk menerapkan aturan KTR.




0 Response to "Belajar Tentang Perda KTR dari Surabaya"

Posting Komentar