Setelah Bogor, Kini Giliran Depok yang Menetapkan Aturan Aneh Melarang Display Rokok di Minimarket

Mulai hari Kamis lalu 27 September 2018, Kota Depok resmi melarang adanya display penjualan rokok, mengiklankan rokok, dan mempromosikan rokok pada toko-toko ritel dan minimarket. Setiap display yang ada di minimarket harus ditutup dengan kain putih atau tirai yang bertuliskan di sini sedia rokok.

penjual rokok

Aturan ini hampir sama dengan aturan yang beberapa waktu yang lalu ditetapkan oleh Kota Bogor. Pelarangan display penjualan rokok ini didasarkan pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok No 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

orang merokok

Wali Kota Depok Mohammad Idris mengeluarkan Surat Edaran bernomor 300/357-Satpol PP kepada pelaku/ pengelola/ penanggungjawab usaha se-Kota Depok per tanggal 19 September 2018. Hari ini, Surat Edaran tersebut resmi dilaksanakan di 374 ritel modern secara serentak.

Aturan untuk melarang display rokok ini tentu saja menjadi polemik tersendiri. Maklum saja, sebab menurut Putusan MK Nomor 54/PUU-VI/2008 dan 6/PUU-VII/2009, rokok merupakan produk yang legal, sehingga ia punya hak untuk tetap diiklankan.

bungkus rokok

Mahkamah menegaskan putusan MK bernomor 19/PUU-VIII/2010 bertanggal 1 November dan peraturan perundang-undangan lainnya tidak pernah menempatkan rokok sebagai produk yang dilarang untuk dipublikasikan. Terlebih, tidak ada larangan diperjualbelikandantidak pernah menempatkan tembakau dan cengkeh sebagai produk pertanian yang dilarang.

Maka, tak berlebihan jika kemudian penetapan aturan tentang display rokok di kota Depok ini diperkirakan akan memicu banyak protes, utamanya dari para pengusaha, serta pedagang kecil yang selama ini memang mengandalkan rokok sebagai dagangan utamanya.