Yang Bikin Miskin Itu Konsumerisme, Bukan Rokok

Konsumerisme adalah paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya. Sebuah gaya hidup yang tentu saja jauh dari kata hemat. Arti kata ini tertera jelas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gaya hidup yang jangan ditumbuhkan pada masyarakat Indonesia, begitu kalimat terakhir arti kata Konsumerisme. Para tim penulis KBBI pun paham betul bahwa gaya hidup ini sungguh berbahaya.

orang merokok

Segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan akan selalu berakhir tidak baik. Mengkonsumsi barang-barang yang tidak mempunyai kegunaan apa lagi prioritas utama dalam hidup Anda termasuk pekerjaan yang sia-sia dan tentu saja akan berakhir dengan penyesalan.

Konsumerisme menjadi momok menakutkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menakutkan karena bisa membuat orang jatuh miskin, bahkan sampai menjadi gila hingga menyebabkan kemelaratan akut.

Komoditas yang dikonsumsi oleh masyarakat kita terbagi atas dua hal. Pertama komoditas makanan dan yang kedua, komoditas non makanan.

Dalam data BPS disebutkan bahwa: jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, daging sapi, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, dan gula pasir. Sementara komoditi non makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis kemiskinan di perkotaan maupun perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

rokok

Data ini sedikit mengejutkan, bahwa jenis-jenis komoditas makanan dan non makanan adalah hal-hal penting bagi masyarakat Indonesia. Data tersebut pun diambil di masyarakat perkotaan dan juga masyarakat pedesaan. Entah ini memang karena faktor rendahnya pendapatan di Indonesia. Atau karena harga-harga komoditas tersebut sangatlah tinggi hingga masyarakat yang mengkonsumsinya langsung jatuh dalam garis kemiskinan.

Kalau kita mau dedah satu-per-satu, sebenarnya budaya konsumerisme sudah menjangkiti masyarakat Indonesia. Barang-barang keperluan yang tak bermanfaat dibeli sebanyak-banyaknya, walau ujungnya nanti tak dipakai dan malah dibuang. Lihat bagaimana pusat perbelanjaan pakaian akan disesaki masyarakat jika terdapat diskon besar-besaran. Tak peduli hari, minggu atau bulan, setiap ada diskon, harus digunakan sebaik mungkin membeli sebanyak-banyaknya. Misalnya lagi soal gadget, gawai elektronik apabila keluaran terbaru di pasaran, harus kita beli, padahal kita masih punya yang lama, dan masih berfungsi.

Ukuran kebahagiaan, kesenangan, masing-masing orang sangatlah berbeda. Ukuran inilah yang kemudian akan menempatkan seseorang menjadi pribadi yang konsumtif (berlebihan) atau malah pribadi yang biasa-biasa saja. Semua itu kembali pada manusianya sendiri. Dengan berkaca pada hal tersebut, otomatis, variable yang ditentukan oleh BPS di atas menjadi tidak tepat, mengingat begitu banyaknya budaya di Indonesia. Banyaknya suku, kehidupan bermasyarakat yang berbeda-beda di tiap daerah. Artinya ukuran-ukuran menentukan kemiskinan terutama rokok, menjadi tidak tepat.

Rokok dimasukkan ke dalam komoditas makanan. Padahal kalau kita kaji lagi, rokok jelas-jelas bukan makanan. Bagaimana dengan pulsa telepon dan pulsa internet, harusnya ini juga dimasukkan, karena kita juga mengkonsumsinya secara rutin. Pun juga dengan beragam barang lainnya, seperti baju, celana, tas, sepatu, motor, mobil dan barang-barang lainnya.

bungkus rokok

Apa barang tersebut tidak dimasukkan ke dalam komoditas yang bisa menentukan seseorang itu masuk dalam garis kemiskinan?

Mungkin penarikan data dan variable yang digunakan BPS tidak memakai barang tersebut. Bagi mereka, barang-barang tersebut tak bisa membuat miskin. Belum lagi soal siapa yang masuk dalam survey data BPS ini. Masyarakat Indonesia sangatlah heterogen, terbagi atas tiga kelas; bawah, menengah dan atas.

rokok

Apa survey ini benar-benar mengambil sampel ketiga kelas tersebut secara adil dan proporsional? Saya rasa sih tidak.