Jejak Rokok Kretek di Tanah Jawa

Kretek adalah warisan budaya khas bangsa Indonesia. Bahan bakunya; tembakau dan cengkeh tumbuh subur di tanah Indonesia, kertasnya dari Indonesia, sausnya dari Indonesia. Proses penciptaan kretek adalah proses penciptaan sebuah karya dari bahan-bahan hasil bumi Indonesia dan oleh orang Indonesia.

Jejak tembakau dalam rokok (kretek) di negeri ini -terutama Jawa- telah ada sejak lampau. Serat Subasita karangan Ki Padmasusastra (1914) menjelaskan budaya mengolah tembakau menjadi rokok kretek adalah cerminan dari perilaku kesantunan orang Jawa.



Disebutkan dalam serat itu, jika hendak menghisap atau menikmati tembakau lihatlah kanan kiri, jangan dekat dengan wanita hamil dan anak-anak. Jika bertamu ke rumah orang lain, sebisa mungkin jangan merokok. Apabila ada asbak di meja tuan rumah, berarti pemilik rumah memperkenankan tamunya untuk merokok. Namun apabila tak ada, idealnya janganlah merokok.

Sementara serat yang lebih lampau, Centhini yang ditulis pada tahun 1814, menyebut olahan tembakau dengan kata “ses” atau “eses”. Hingga detik ini sebagian besar masyarakat perokok di Jawa menyebutnya dengan nama itu.

Dalam serat Centhini dikisahkan bahwa tembakau adalah hidangan wajib bagi para tamu di Jawa karena dengan menghisap tembakau (kretek) segala jarak dan perbedaan diri dapat dihilangkan. Obrolan menjadi lebih cair dan memunculkan aspek kekeluargaan yang kental. Sementara banyak juga yang menyebut kretek dengan nama “udud”. Kata itu dapat ditelusuri dalam Babad ing Sengkala tahun 1602, yang menyebut masuknya tembakau ke Jawa dan aktivitas merokok berbarengan dengan tahun kematian Panembahan Senopati (1601).



Kretek, jika dibakar akan menghasilkan bunyi, keretek, keretek, keretek. Biasanya dinikmati dengan segelas kopi atau juga teh yang kental, lengkap dengan jajanan berupa ubi ataupun pisang goreng. Kebiasan ini masih sering banyak dilakukan masyarakat di Jawa.

J.W. Winter (1824) mengisahkan kehidupan masyarakat Jawa yang tenteram dan damai namun mengandung keunikan tersendiri. Pada abad ke-18 kebutuhan akan tembakau sebagai kretek telah menyedot 25 persen dari gaji orang Jawa yang berprofesi sebagai petani. Maklum, kretek tidak semata dinikmati secara pribadi, namun menjadi suguhan wajib bagi para tamu yang sedang berkunjung. Lebih baik tanpa makanan atau minuman, asalkan ada kretek di meja.



Kretek bukanlah sebuah produk yang membuat sakit si penghisapnya. Kisah Haji Djamhari misalnya, penderita asma yang melinting tembakau dengan campuran cengkeh. Lintingan tersebut kemudian dibakar dan dinikmati. Sensasi segar didapatnya, ia tak lagi berasa sesak, yang kemudian segala aktivitas rutinnya dapat dikerjakan dengan lebih bertenaga. Racikan tak sengaja antara tembakau dengan cengkeh ini kemudian kita kenal dengan sebutan kretek. Kisah Haji Djamhari ini terjadi sekitar abad ke 18, di Kudus.

Kita dapat melihat jejak-jejak persentuhan tembakau dengan manusia Jawa. Tembakau tidak semata berkisah tentang asap dan kesehatan, namun juga kohesi sosial (Aris Setiawan, 2014); tentang keakraban, kerukunan dan saling menghargai. Ada banyak lagi kisah, prasasti tentang jejak tembakau di Indonesia yang masih banyak belum kita ketahui. Budaya, tradisi kultural masyarakat Jawa dan terutama masyarakat Indonesia tentang tembakau perlu kiranya kita lihat lagi dan disebarluaskan. Betapa kayanya budaya kita tentang tembakau di Indonesia.