Hitung-Hitungan Gubernur Irwandi Yusuf Tentang Rokok Bikin Miskin Dianggap sebagai Upaya Lari dari Tanggung Jawab Sejahterahkan Rakyat

Pernyataan yang pertama kali dikeluarkan oleh Kepala Bappeda Aceh, Azhari Hasan, bahwa tingginya tingkat konsumsi rokok menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya kemiskinan di Aceh menjadi topik hangat yang dibicarakan rakyat Aceh.

Apalagi, beberapa saat setelah pernyataan itu keluar, kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Irwandi Yusuf yang merilis hitung-hitungan “Tentang Rokok Bikin Miskin” yang diposting di akun Facebook-nya.

bungkus rokok

Dengan menggunakan ilustrasi, Irwandi Yusuf mengambarkan satu keluarga yang terdiri dari 5 orang. Suami (kepala keluarga), istri dan 3 orang anak.

“Yang cari duit suami. Duit yang jarus dicari adalah Rp 14.000/hari.jiwa (Standar minimum).”

Total harus ada duit per hari adalah 5x14000 = Rp 70.000.

Biasanya upah buruh adalah antara Rp 50.000 sd Rp 75.000. Kita pasang Rp 75.000 saja.

Si suami perokok. Biasanya si perokok menghabiskan sedikitnya 2 bungkus rokok/hari. Harga rokok rata2 Rp 20.000/bungkus = Rp 40.000/hari.

Sisa penghasilan keluarga setelah membeli rokok adalah Rp 75.000 – 40.000 = Rp 35.000/ hari/

Jatah per orang perhari tinggal Rp35000/5 = Rp 7.500. Ini JELAS MISKIN.

Jika suami hanya isap rokok 1 bungkus/hari maka sisa penghasilan keluarga adalah Rp 55.000. Jatah.orang tinggal Rp 11.000. Gak cukup standar.

ROKOK MEMANG BIKIN MISKIN.

Makanya, gunakan yang dilindungi oleh rambut itu sebelum menghujat ide.


Namun, lontaran tersebut justru membuat banyak rakyat Aceh menimpali dengan pertanyaan kritis, seperti halnya yang dilontarkan oleh Syardani M. Syarif (Teungku Jamaica), “ada berapa rokok yang dibelikan oleh Pemerintah Aceh setiap hari dibagikan untuk orang miskin?”

Tentu saja tidak ada. Sebab merokok adalah hak individu, baik orang kaya maupun miskin membeli rokok dari uang hasil keringatnya sendiri. Tidak ada hak Pemerintah Aceh mencampuri urusan rakyat membeli rokok.

rokok

Teungku Jamaica mengingatkan, “Gubernur sebagai penguasa terhadap Anggaran dan Kebijakan Pemerintah Aceh, bisa membuat program apapun dari A-Z untuk mensejahterakan rakyat Aceh dan keluar dari kemiskinan. Ini adalah Tugas dan Kewajiban Utama Pemerintah Aceh.”

Data menunjukkan, selama 10 tahun (2008-2017), Aceh telah menerima Dana Otonomi Khusus sebesar Rp 59,87 triliun. Total Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) mencapai Rp 13-14 triliun per tahun.

“Dari jumlah dana tersebut yang sangat fantastis itu, ada berapa rupiah dana tersentuh untuk program mensejahterakan rakyat Aceh terutama orang miskin?” lanjutnya.

rokok

Pemerintah Aceh yang menyalakan rokok menjadi miskin karena mengisap rokok tidak sepatutnya dilakukan, terlebih ditengah kenyataan bahwa rakyat Aceh tetap miskin di saat uang melimpah.

“Ini adalah suatu kebodohan publik yang tidak bisa diterima akal sehat,” kata Teungku Jamaica.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto