Ayah Kedapatan Merokok di Toilet Kereta, Satu Keluarga Jadi Korban Aturan Semena-mena PT KAI

Cerita miris dari aturan semena-mena PT Kereta Api Indonesia (KAI) kembali terjadi. Kali ini terjadi pada 4 Agutus 2017 lalu, di mana seorang pria beserta istri dan anak balitanya diturunkan paksa dari kereta api Prambanan Ekspres (Prameks).

penumpang diturunkan

Kejadian ini bermula karena ayah satu anak tersebut kedapatan merokok di dalam toilet kereta api. Aktivitas merokok pria tersebut tercium oleh Polsuska (polisi khusus kereta api). Setelah ditegur, pria tersebut dan anak istrinya diturunkan paksa di stasiun Rewulu Bantul, Yogyakarta.

bungkus rokok

Bila cermati secara dangkal, bisa jadi pria tersebut wajar diturunkan karena tidak menaati aturan PT KAI. Tetapi jika ditelisik lebih jauh pria dan keluarga kecilnya tersebut merupakan salah satu korban dari aturan semena-mena PT KAI yang menetapkan seluruh bagian kereta sebagai Kawasan Tanpa Rokok merujuk Instruksi Direksi Nomor 4/LL.006/KA-2012 tertanggal 7 Februari 2012.

bungkus rokok

Padahal, sejatinya hak perokok dilindungi secara konstitusional. Mahkamah Konstitusi melalui Putusan MK Nomor 57/PUU-IX/2011 telah menghilangkan kata ‘dapat’ dalam penjelasan Pasal 115 ayat (1) dalam UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Dengan menghilangkan kata dapat tersebut, penjelasan Pasal 115 ayat (1) UU Kesehatan berubah menjadi “Khusus bagi tempat kerja, tempat umum, dan tempat lainnya menyediakan tempat khusus untuk merokok.”

smooking room

Termasuk dalam bagian ini adalah transportasi umum seperti kereta api, yang apabila menetapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok maka mempunyai kewajiban untuk menyediakan tempat khusus untuk merokok bagi para penumpangnya.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto