Kisah Humor: Nikmatnya Join Rokok Kiai

Di beberapa pesantren, kadangkala ada aturan dimana santri tidak diperkenankan merokok. Para pngasuh pesantren bahkan tidak segan-segan menjatuhkan hukuman bagi santri bandel yang memaksakan diri dan kedapatan merokok di area pesantren.

Beberapa santri yang tidak tahan ingin merokok kerap mencari-cari kesempatan untuk merokok, terutama di malam hari dan sambil sembunyi-sembunyi, serta dilakukan di tempat yang sepi dan strategis, seperti gang-gang kecil di sekitar pesantren, di belakang asrama, atau di tempat-tempat yang kerap tak terjangkau oleh patroli pengawas pesantren.

bungkus rokok

Tersebutlah, di suatu malam, seorang santri ingin mencuri kesempatan untuk merokok. Dia bergegas ke kebun belimbing di sekitar belakang asrama. Sebagaimana malam-malam sebelumnya, bila kebetulan dia kehabisan rokok, dengan mudah dia meminta rokok ke teman-temannya yang juga sesama perokok.

Entah kenapa, malam itu begitu sepi, tak ada seorang santri pun yang nongkrong di kebun belimbing untuk merokok, padahal ia begitu ingin merokok dan rokoknya sedang habis, sehingga mu tak mau, harus minta join kepada kawan-kawannya.

Ia heran, sebab tak biasanya kebun belimbing sepi begini, biasanya tak kurang dari sepuluh santri yang kerap nongkrong dan berjongkok di bawah pohon belimbing sambil kebal-kebul menghisap rokok dengan begitu khusyuknya.

orang merokok

Beruntung, saat ia mulai putus asa mencari kawan-kawannya untuk minta join rokok, ia melihat seseorang yang nampak sedang asyik menikmati rokoknya di bangku dekat tempat wudhu masjid. Maka, tak butuh waktu lama, ia segera mendatanginya.

Ia tak mengenali siapa santri yang sedang merokok itu, sebab kondisi saat itu memang sedang gelap. Sehingga, ia pun hanya bisa memanggil si santri dengan panggilan “kang”, bukan panggilan nama.

“Kang, join rokoknya ya...” katanya kepada seorang yang didekatinya itu.

Yang diminta langsung memberikan rokok kepadanya.

Santri menerimanya seolah sedang beruntung mendapatkan hadiah. “Alhamdulillah, nikmatnya...” katanya, dan diteruskan isapan rokoknya.

Bara rokok makin membesar ketika isapan selanjutnya. Sampai wajah seorang yang dimintai rokok terlihat secara samar-samar.

rokok

Dasar nasib siapa tahu. Ternyata, yang dia mintai rokok adalah kiainya sendiri.

Santri kaget dan ketakutan. Dia langsung kabur. Lari tunggal langgang tanpa sempat mengembalikan rokok yang dipinjamnya.

Sang kiai yang merasa rokoknya dibawa kabur, segera berteriak, ”Hei, rokok saya jangan dibawa. Itu tinggal satu-satunya!”

Gambar ilustrasi: Eko Susanto