Inggit Garnasih, Rokok, dan Pesan Soekarno

Sejak dipindahkan ke penjara Sukamiskin dari penjara Banceuy, Soekarno menghadapi masa-masa sulit.

penjara sukamiskin

“Saya tak dapat belajar dengan baik karena badan sudah payah (setelah seharian bekerja). Otak seolah-olah dapat penyakit kekurangan darah sehingga tidak banyak yang dapat diterima dan pikirkan. Otakku merasa lekas benar penuh, lekas lelah,” akunya.

Di Sukamiskin, Soekarno menghadapi kondisi yang jauh berbeda dengan penjara sebelumnya. Dia bahkan tidak mendapatkan lagi kiriman surat kabar dan majalah berkala. Tidak hanya itu, ia tidak diperbolehkan dijenguk oleh siapapun terkecuali istrinya, Inggit Garnasih. Itupun hanya dua kali dalam sebulan.

Inggit dan Soekarno

Di masa-masa itu, peran Inggit dalam menyampaikan pesan terkait keadaan di luar penjara menjadi sangat penting. Demikian sebaliknya, Soekarno perlu memberikan pesan kepada rekan-rekan seperjuangannya. Untuk mengatasi hambatan tersebut, keduanya menyusun kode-kode komunikasi.

Keduanya kerap menggunakan makanan. Bila yang dikirim berupa telur asin, maka ada kabar buruk di luar penjara. Bila yang dikirim bukan telur asin, berarti ada perkembangan bagus di luar penjara. Selain makanan, medium lain yang kerap digunakan untuk menyampaikan pesan adalah rokok, atau lebih tepatnya pada kertas dan bungkus rokok.

bungkus rokok

Rokok menjadi sesuatu yang tidak mencurigakan, sebab selama ini, Soekarno memang dikenal sebagai pribadi yang doyan merokok, itulah sebabnya, keberadaan rokok bagi Soekarno bukan hal yang terlalu menarik perhatian bagi sipir penjara.

rokok

Pada kertas rokok, Inggit kerap menuliskan pesan-pesan dari kaum pergerakan. Sebaliknya, Soekarno juga menulis balasan atau membuat pesan singkat di kertas rokok tersebut.

rokok

Pada masa-masa itu, Inggit memang mencari penghidupan dengan menjahit baju dan berdagang. Salah satu dagangannya ialah rokok. Rokok dagangan Inggit ini dilinting dengan kertas putih dan diikat dengan benang merah.

Gambar ilustrasi Rokok: Eko Susanto