3 Momen Nikmat Untuk Merokok

Merokok bisa dibilang adalah salah satu aktivitas yang fleksibel dan bisa dilakukan hampir di segala situasi. Namun, bagi banyak perokok, ada momen-momen tertentu yang dinilai menjadi momen yang paling nikmat untuk menikmati rokok mereka.

Orang Merokok

Nah, dari sekian banyak pendapat perokok, inilah tiga momen yang diangap paling nikmat untuk merokok

Lagi boker

Tidak ada satu pun perokok kelas berat di belahan bumi yang menyangkal kenikmatan menikmati rokok saat lagi boker.

Berdasarkan penelitian, tentu yang diteliti teman-teman sendiri (hehehe), sensasi orang mules yang membangkitkan emosi dan gairah jiwa dianggap sebagai momen sempurna untuk merokok.


rokok dan kopi

Perpaduan itu membuat ngeden ngeluarin tokai dengan sedotan asap rokok membuat suasana boker lebih dramastis, lebih ekspresif, dan mengguncang jiwa. Asap melambung di udara, terlebih udaranya terbuka. Selain itu, merokok selagi boker adalah saat yang tepat untuk belajar keseimbangan antara menyedot dan mengeluarkan.

Setelah makan

Kalau yang ini sudah menjadi rahasia umum. Setelah makan adalah saat yang tepat untuk menikmati sebatang rokok.

Orang Merokok

Sedotan pertama yang panjang membuat asap rokok di dalam tubuh terasa lebih menggelegar, lalu kepulan asap dikeluarkan dari mulut laksana gunung krakatau meletus. Wuuuussss. Sedap. Itu sebabnya, sehabis makan tanpa merokok ibarat nikah tanpa malam pertama. Kalau kata orang Brebes, Tegal, dan sekitarnya selalu bilang “Wis ora udu uenek!!!”

Setelah Perjalanan Kereta Api

Perjalanan jauh, dengan duduk lama berjam-jam di ruang ber-Ac dan ancaman akan diturunkan di stasiun berikutnya apabila merokok tentu membuat perokok terasa bosan.

rokok

Pokoknya kamu boleh tanya kepada perokok yang naik kereta, tak perlu perokok yang kebetulan alergi AC, cukup perokok biasa saja. Tapi karena sifat toleran perokok meski peduli dengan orang-orang sekitar.

Nah, setelah perjalananmu sampai ke stasiun terdekat silakan cari ruang merokok. Eh, busyeeeet enak banget cong.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto