Rahasia di Balik Turunnya Produksi Rokok Indonesia Tahun 2016

Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi menyampaikan bahwa tahun 2016 produksi rokok turun sebanyak 6 miliar batang.

bungkus rokok

Turunnya produksi rokok itu disebabkan oleh meningkatnya tarif cukai yang mencapai 15 persen. Ditambah lagi dengan PPN rokok yang juga mengalami kenaikan tarif 8,7 persen. Kenaikan dua komponen yang berkontribusi pada pembentukan harga rokok itu membuat menurunnya daya beli masyarakat.

Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang proses produksinya melibatkan banyak tenaga kerja karena dibuat secara manual adalah jenis rokok yang paling terkena imbas.

bungkus rokok

“Selain karena kenaikan cukai terlalu tinggi, kenaikan cukai juga masih kurang berpihak ke SKT karena masih ada tarif SKM/SPM yang lebih rendah dari tarif SKT. Perlu diperhatikan peningkatan tarif cukai tidak sertamerta menurunkan minat merokok, tapi justru menyuburkan konsumsi rokok ilegal,” kata Indah Kurnia, Anggota DPR Komisi XI.

rokok

Rokok ilegal, terutama SKT merupakan jenis rokok yang mudah diproduksi karena tidak membutuhkan teknologi mahal. Serta meningkatnya harga rokok membuat peluang beredarnya rokok ilegal semakin terbuka. Keuntungan yang didapat jauh lebih besar daripada harus membayar cukai.

rokok

Lebih parah lagi, kenaikan cukai rokok melebihi inflasi ditambah kenaikan PPN, membuat daya beli masyarakat menurun. Pilihan yang dilakukan otomatis berhenti merokok melainkan mengalihkan konsumsi ke rokok ilegal.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto