Tiga Fakta Tentang Impor Tembakau

Impor tembakau menjadi salah topik yang belakangan marak diperdebatkan, terlebih dengan adanya rumor harga rokok Rp 50 ribu, sehingga menutup keran impor bisa meningkatkan pendapatan yang diterima oleh masyarakat Indonesia karena serapan bahan baku lokal bisa lebih banyak. Tetapi, melihat persoalan ini tidak bisa sederhana argumentasi tersebut.

Rokok

Jika tidak diletakkan pada porsi yang tepat. Menutup keran impor justru akan merugikan masyarakat Indonesia. Karena pemaksaan penggunaan bahan baku lokal, akan merusak citarasa. Kalau begini yang terjadi, konsumen justru rawan beralih mengisap rokok impor, yang bahan bakunya berasal dari luar dan produksinya dilakukan di luar negeri.

Petani Tembakau

Berikut tiga fakta tentang impor tembakau yang perlu diketahui untuk melihat persoalan ini dengan lebih bijaksana:

1. Beda Tembakau, Beda Penggunaan

Dalam neraca perdagangan tembakau Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik tahun 2013 tercatat impor tembakau Indonesia sekitar 121 ton tembakau dengan nilai 627 juta dollar (dengan kurs Rp13 ribu). Sedangkan tembakau yang diekspor sekitar 17 ribu ton tembakau.

Tembakau

Kalau kebutuhan dalam negeri kurang, lalu kena masih ekspor? Di sini, perlu ditilik lagi, tembakau yang diimpor ke Indonesia lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kretek yang menyaratkan lebih dari 8 jenis tembakau agar mencapai rasa sesuai karakter yang diinginkan. Sedangkan tembakau yang diekspor untuk kebutuhan bahan baku cerutu.

2. Menutup Impor, Bukan Berarti Meningkatkan Nilai Jual Tembakau Petani

Menutup impor tembakau sebagai cara menaikkan nilai jual tembakau dari petani Indonesia yang menjadi argumentasi asosiasi petani tembakau agar tembakau petani bisa dibeli oleh pabrikan secara lebih baik di tahun ini.

Tembakau

Tetapi, pemecahan persoalan ini hanya bersifat prakmatis. Sebab, jatuhnya harga tembakau petani dikarenakan panenan tidak bisa mencapai kualitas terbaiknya karena musim sedang buruk akibat hujan berkepanjangan. Apabila dipaksakan untuk menggunakan tembakau dalam negeri, maka kualitas rasa rokok Indonesia akan berubah. Sehingga terancam ditinggalkan oleh konsumen.

3. Karakeristik Kebutuhan Pasar

Kebutuhan pasar dalam negeri yang bergeser ke jenis MILD membuat kebutuhan impor tembakau tetap berjalan. Sebab, karakteristik rokok MILD membutuhkan jenis tembakau yang ringan seperti jenis Virginia. Sedangkan di dalam negeri justru jenis tembakau berat yang banyak diproduksi. Itu alasan lain yang membuat impor tembakau tetap terjadi.

Petani Tembakau

Langkah solutif untuk mengurangi impor bisa dilakukan dengan budidaya tembakau yang selama ini diimpor untuk diproduksi di dalam negeri. Jenis tembakau Virginia yang mulai dibudidayakan di Lombok dan Bojonegoro bisa menjadi contoh baik. Tetapi, butuh waktu panjang, mulai dari memilih lahan, tranformasi pengetahuan petani, dan penyediaan infrastruktur untuk membudidayakan satu jenis tembakau. Budidaya tembakau Virginia di Lombok dan Bojonegoro, misalnya, baru bisa dikatakan mantap setelah 10 tahun.

Gambar Ilustrasi: Eko Susanto