Gatot Nurmantyo: FCTC Merupakan Ancaman bagi Kedaulatan Indonesia

Sejarah Rokok - Desakan bagi pemerintah Indonesia untuk meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) atau Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau terus dikobarkan oleh lembaga kesehatan atau LSM Antirokok di tanah air. Desakan dari mereka seperti mendapat legitimasi dengan dukungan dari Organisasi Kesehatan DUnia (WHO) dan berbagai LSM Internasional.

Sejarah Rokok

FCTC mempunyai tujuan untuk memberikan batasan penggunaan produk tembakau, di antaranya memberikan standarisasi varietas tembakau dan memerapkan patokan harga yang tinggi Dalam salah satu pasalnya FCTC juga melarang penjuaan rokok beraroma. Padahal di Indonesia produk rokok yang diproduksi adalah rokok beraroma dari hasil perpaduan tembakau dan cengkeh.

Menanggapi hal ini, Panglima TNI Gatot Nurmantyo pada acara Dialog Nasional Munas Kadin VIII di Hotel Charlton, Jakarta, Rabu (21/10) menegaskan bahwa FCTC merupakan ancaman bagi kedaulatan Indonesia. Indonesia sama sekali tidak diuntungkan dari penerapan FCTC. Untuk menjelaskan dalam teori perang, cara yang demikian termasuk Proxy War atau perang dengan menggunakan pihak ketiga sebagai tentara bayaran untuk mengancurkan industri rokok dalam negeri. Pihak ketiga di sini bisa siapa saja, berwujud LSM atau lembaga pemerintahan sendiri.

Sejarah Rokok

Pihak-pihak yang mendukung ratifikasi FCTC mungkin mengira kampanye tersebut sebagai bagian dari upaya moral kebaikan. Terlebih setelah kampanye yang menggambarkan buruknya dampak merokok. Meskipun tanpa didasari oleh penjelasan rasioal dan penelitian mendalam, tetapi toh akhirnya dipercaya.

Tetapi, pokok persoalan dari FCTC malah tidak lagi ditilik lebih jauh. Bahwa kebijakan tersebut jelas-jelas merugikan Indonesia.

Sejarah Rokok

Lihat saja pasal 17 dan Pasal 26 Ayat 3 FCTC yang mengatur diversifikasi tanaman tembakau ke tanaman pengganti. Itu artinya para petani tembakau dipaksa menutup ladang tembakau dan menggantinya dengan tanaman lain. Di sisi lain petani Cengkeh juga terancam. Komoditas endemic yang menjadi keunggulan Indonesia sampai sekarang, lebih dari 90 persen produksi, digunakan sebagai bahan baku rokok khas Indonesia bernama kretek itu.

Foto oleh : Eko Susanto