“Dakwah Cengkeh” dari Mursyid Penyulut Rokok Kretek

Kiai Hasan Asyari, atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Hasan Mangli, merupakan mursyid dari tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah yang bermukin di Dusun Mangli, lereng gunung Andong di Kecamatan Ngablak, Magelang.

Ketika itu, sekitar tahun 70-an, Mbah Hasan Mangli mempunyai kebiasan membawa bibit cengkeh untuk dibagi-bagikan kepada jamaah pengajian. Di berbagai daerah di Magelang, Jepara, Kudus, dan pati, di mana tersebar jamaah pengajian yang sering dikunjungi Mbah Hasan Mangli pun tersebar tanaman cengkeh.

Sejarah Rokok

Hasil panen dari budidaya cengkeh itu digunakan untuk menunjang perekonomian jamaah. Kebetulan di era itu, kebutuhan akan cengkeh begitu tinggi untuk kebutuhan rokok kretek yang sedang melonjak. Peluang ekonomi itu dibagikan oleh Mbah Hasan Mangli dalam bentuk membagi-bagikan cengkeh kepada jamaah. Walaupun tak begitu banyak, tapi secara simbolik memberikan petunjuk agar masyarakat menanam cengkeh.

Di sini terlihat kesadaran Mbah Hasan Mangli untuk tidak hanya membangun komunitas tarekat dalam ikatan kebatinan, dalam kaitannya ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari sisi ekonomi, ia juga membangun perekonomian tarekatnya.

Sejarah Rokok

Semasa hidupnya Mbah Hasan Mangli dikenal sebagai kiai penyulut rokok kretek. Ia punya kebiasaan untuk merokok kretek. Di rumah singgahnya, sekira 500 meter dari Masjid Menara Kudus, juga terdapat perusahaan rokok “Buah Cengkeh” yang mungkin membuat dia tahu betapa pentingnya komoditas cengkeh untuk dikembangkan secara luas.

Sejarah Rokok

Apa yang dibangun oleh Mbah Hasan Mangli barangkali hancur ketika proyek Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh diberlakukan oleh pemerintah pada 1990-an, tetapi 10 tahun kemudian, harga cengkeh kembali melambung.

Foto oleh : Eko Susanto