Deli: Kota Penghasil Tembakau Terbaik di Dunia

Salah satu Kesultanan tertua di pantai timur Sumatra, berdiri pada abad ke-17 di wilayah bernama Tanah Deli, kini Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Status kesultanan masih diakui hingga kini tapi hanya secara simbolik karena nyaris kekuatan politiknya terkikis di bawah administrasi modern Indonesia sejak 1949.

Pada era kolonial, terutama periode Cultuurstelsel atau Tanam Paksa (1830-1870), Deli terkenal salah satunya berkat perkebunan tembakau, yang dirintis oleh pebisnis Belanda yang kelak mendirikan Deli Maatschappij dengan tanah milik sultan Deli. Mulanya para buruh yang bekerja di sana adalah orang-orang Tionghoa dari Jawa, Tiongkok, Singapura dan Malaysia. Sejalan perkembangan ekonomi-politik kolonial, terutama periode liberal (kebijakan pintu terbuka pada 1870), tenaga buruh mulai didatangkan dari Jawa, mendorong praktik kuli kontrak.

Perkebunan Tembakau

Periode ini juga dikenalkan izin konsesi penguasaan oleh perusahaan swasta asing untuk produksi komoditas global termasuk tembakau. Sebagai gambaran, Deli Maatschappij mengekspor tembakau sekurangnya 207 kg pada 1870, tahun ketika Agrarische Wet dikenalkan. Pada awal abad ke-20 perusahaan itu merajai pasar tembakau Deli yang dikenal sebagai bahan pembungkus cerutu (wraffer) terbaik dunia.



Perkembangan perusahaan turut mengubah pusat keramaian, sehingga kota Medan berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat pemerintahan. Kesultanan Deli masih diakui kala pendudukan Jepang namun berikutnya terpapar imbas politik, dikenal sebagai revolusi sosial, sesudah Republik Indonesia diproklamirkan.

Tembakau

Deli Maatschappij dinasionalisasi pada 1950-an. Pada masa jayanya, perusahaan swasta perkebunan tembakau era kolonial ini sempat memiliki 22 perkebunan pada 1874. Kini hanya menyisakan tiga perkebunan di Helvetia, Buluh Cina dan Kelumpang di bawah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II. Termasuk satu dari tiga penghasil tembakau untuk pasar cerutu dunia, selain di Jember dan Klaten.

Foto oleh : Eko Susanto