Ahok: larang rokok, bela alkohol

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengancam akan “menstafkan” atau mencopot  PNS yang kedapatan merokok di tempat kerja. Sikap Ahok ini melemahkan sokoguru industri rokok nasional. Industri rokok kretek merupakan satu-satunya potret kedigdayaan industri nasional terhadap produk-produk luar negeri.

Sebulan yang lalu, Ahok menerbitkanPeraturanGubenur (pergub) Nomor 1 Tahun 2015 tentang Larangan Penyelenggraan Reklame Rokok dan Produk Tembakau pada Media Luar Ruangan. Sebelumnya, ia juga mengancam memotong tunjangan PNS yang kedapatan merokok. Ia juga mengancam pihak swasta seeta pengelola gedung yang tidak mengawasi para perokok.

Aneh bila larangan keras diberlukan tanpa terlebih dahulu menyediakan Tempat Khusus Merokok di kantor-kantor pemerintahan yang menjadi Kawasan Tanpa Rokok. Sebagaimana kita pahami, undang-undang Indonesia telah mengamanatkan untuk menyediakan Tempat Khusus Merokok di kawasan tanpa rokok, seperti tertuang dalam UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Akan lebih aneh lagi, jika Ahok galak terhadap perokok tetapi justru membela keras para peminuma alkohol. Iamembiarkan alkohol jenis A beredar di minimarket, yang mudah diakses oleh siapa saja. Padahal Menteri Perdagangan mengeluarkan Permendag No 06/M-DAG/PER/1/2015 yang melarang minimarket menjual minuman beralkohol meskih anya lima persen. “Ketika alkohol dilarang justru terjadi pasar gelap,” pembelaan Ahok terhadap perederan alkohol di minimarket.

Sumber: Rokok Indonesia | foto: Eko Susanto (Flickr)