Hadist Soal Rokok Berasal dari Kencing Iblis Ternyata Palsu

Rokok selalu dianggap sebagai produk yang buruk dan tak bermanfaat. Karenanya, tak heran jika banyak pihak yang mencoba untuk memerangi rokok. Berbagai jalan dilakukan. Mulai dari penyebaran fakta hoax sampai penerapan aturan yang menyudutkan rokok.

orang merokok

Salah satu cara yang banyak dilakukan tentu saja adalah menggunakan dalil-dalil agama (yang memang dalam banyak hal juga kerap digunakan). Argumen-argumen soal rokok terkait agama banyak berseliweran. Dari mulai rokok mendzolimi diri sendiri, sampai rokok lebih banyak menghadirkan mudharat.

rokok

Nah, belakangan, pernyataan soal rokok yang cukup menjadi banyak perbincangan adalah pernyataan Ustadz Tengku Zulkarnaen yang dalam salah satu ceramahnya menyebut asal-usul rokok merupakan dari kencing Iblis.

Hal ini didasarkannya pada hadist yang berdasarkan tafsir Kitab Muqni Al-Kabir, berbunyi:

“Wahai Abu Hurairoh akan datang pada akhir zaman yang suatu kaum yang selalu bersama asap ini, mereka berkata: kami umat Muhammad, tetapi mereka bukanlah umatku, dan aku juga tidak mengatakan mereka itu suatu umat tetapi mereka itu racun umat”, abu hurairoh berkata; aku bertanya: bagaimana benda itu tumbuh?, Nabi menjawab: “benda itu tumbuh dari kencing iblis, apakah sama keimanan seseorang yang meminum air kencing iblis? dan Allah melaknat orang yang menanamnya, memindahkannya dan memperjualbelikannya” Rasulullah SAW bersabda: “Allah memasukan mereka ke neraka sesungguhnya pohon (tembakau) itu adalah pohon yang menjijikan”.

orang merokok

Dari hadist ini kemudian ditelusuri kebenarannya yang akhirnya didapatkan bahwa ini adalah hadist maudhu alias palsu. Ini dijelaskan kebenarannya melalui tafsir berdasarkan referensi kitab; Bugyah Al-Musytarsyidin dan Quratul ain fi Ismail Zain.

Jawaban atas Hadist menyoal rokok kencing Iblis dijelaskan secara rinci sebagai berikut: bahwa rokok tersebut belum ada pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan hadist mengisyaratkan keberadannya, tidak diragukan lagi bahwa hadist tersebut adalah hadist maudhu (palsu) yang mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”.

bungkus rokok

Nah, hal ini tentu menjadi pelajaran berharga untuk kita, untuk selalu berhato-hati dalam membaca berita dan informasi menyoal rokok, apalagi dengan embel-embel berdasarkan Hadist. Sebab para kiai pun sangat mempertimbangkan banyak hal ketika akan mengeluarkan fatwa soal rokok.




Gus Muwafiq: Obat Stress orang Indonesia itu ya Rokok

“Dokter dunia geleng-geleng, melihat cara pengobatan orang Indonesia yang tak masuk akal. Penyakit anyang-anyang yang diikat jempol kakinya, padahal kan yang sakit di ‘burungnya’ kok malah jempol kaki yang diikat,” kata KH. Ahmad Muwafiq atau yang lebih dikenal sebagai Gus Muwafiq dalam sebuah pengajian.

gus Muwafiq

Pernyataan tersebut langsung membuat seluruh jamaah tertawa lepas.

Gus Muwafiq adalah salah satu kiai Jogja yang punya acara dakwah cukup menyenangkan. Beliau kerap menggunakan tradisi atau tingkah laku orang-orang Indonesia yang selalu bisa bertahan dalam segala kondisi dan permasalahan hidup dalam berbagai materi ceramahnya.

bungkus rokok

Dengan gaya jenakanya, Gus Muwafiq kerap mengajak para jamaah berpikir rasional, objektif, dan tak gampang percaya dengan hal-hal berbau asing, karena bangsa Indonesia sejak jaman dulu punya cara tersendiri mengatasi segala permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu materi yang kerap dibahas oleh Gus Muwafiq adalah soal rokok. Kiai yang kerap tampil dengan kopiah khasnya ini mengatakan bahwa rokok merupakan obat stress bagi rakyat Indonesia.

orang merokok

Mangkanya, ketika banyak perusahaan farmasi luar negeri menjual obat stres di Indonesia, kebanyakan pasti tak laku, sebab Indonesia sudah punya obat stressnya sendiri, yakni rokok.

rokok

“Jualan obat stress kok di Indonesia, yah pasti tak akan laku. Sebab kita sudah punya obat stress paling manjur yaitu rokok. Kandungan nikotin di dalamnya mampu membuat tenang pikiran. Tak perlu mengkonsumsi obat dengan rutin.”




Gappri: Tarif Cukai Tinggi, Rokok Ilegal Juga Tinggi

Jika dilihat dari sisi volume produksi, maka kondisi industri rokok saat ini boleh dikatakan sedang terpuruk. Ada penurunan 1-2 % selama 4 tahun terakhir. Bahkan hingga April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7 %.

rokok

Data ini disampaikan Ketua Umum Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Kretek Indonesia (GAPPRI), Ismanu Soemiran. Ketua GAPPRI ini menegaskan, kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah harusnya memperhatikan berbagai faktor. Khususnya faktor ekonomi dan suhu politik yang kian memanas jelang Pemilu ini.

rokok

Ismanu menerangkan bahwa rencana Pemerintah yang ingin menaikkan lagi tarif cukai rokok dan memberlakukan penyederhanaan layer rokok. Kalau sampai kebijakan ini dijalankan, akan terjadi kenaikan ganda yang imbasnya akan berpengaruh pada Industri Tembakau.

bungkus rokok

Tak sampai di situ saja, kenaikan tarif cukai dan penyederhaan layer berpotensi merugikan Negara. Padahal pendapatan Industri Hasil Tembakau (IHT) yang disetorkan ke Negara sebesar 200 triliun, hampir setara 70% total prosentase pemasukan Negara. Maka sesungguhnya IHT dapat disebut BUMN yang dikelola swasta. Ismanu menegaskan hidup mati industri hasil tembakau tergantung pemerintah juga. Secara de facto pemerintah adalah penerima pungutan terbesar hasil penjualan IHT.

rokok

Dampak lain adanya kebijakan ini menyebabkan tingginya produksi dan peredaran rokok ilegal. Rokok ilegak merupakan rokok yang tak bercukai, rokok ini tak memberikan pemasukan untuk negara, sehingga, selain berpotensi merugikan Industri Tembakau dan juga dapat mengurangi penerimaan negara.

orang merokok

Di Malaysia, tingginya tarif cukai terbukti meningkatkan peredaran rokok ilegal. Hal ini karena banyak produsen rokok yang nekat membuat rokok tanpa cukai karena tingginya tarif cukai yang diberlakukan.

Indonesia seharusnya bisa belajar dari Malaysia, bahkan kenaikan tarif cukai rokok tak melulu bakal menjadi jalan untuk meningkatkan pendapatan, tapi justru bisa mengurangi setoran pemasukan.






Bos Djarum Ikut Berlaga di Asian Games

Hampir tak ada yang menyangka jika Michael Bambang Hartono, bos besar Djarum, selain seorang pengusaha ternyata juga atlet profesional Bridge. Tak tanggung-tanggung, di usianya yang sudah hampir kepala delapan, ia bakal tampil mewakili Indonesia di ajang olahraga Asian Games 2018.

Michael Bambang Hartono

Pria kelahiran 2 Oktober 1941 ini baru saja menuntaskan perjalanan melelahkan selama hampir dua bulan keliling Eropa dan Amerika Serikat untuk mengikuti serangkaian uji coba Bridge. Ia juga merupakan Ketua Dewan Pembina Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI).

Bridge sempat tidak diikutkan dalam ajang Asian Games 2018. Namun, berkat usaha dari Ketua PB-GABSI, olahraga bridge akhirnya diperbolehkan untuk dimasukkan ke ajang Asian Games. Usahanya adalah meyakinkan para Petinggi Olimpiade Asia (OCA), bahwa olahraga Bridge ini sudah mendunia dan dilaksanakan sebagai ajang olahraga, bukan untuk judi.

Salin sibuk bergelut sebagai atlet, Michael Bambang Hartono juga sibuk mengurus perusahaan rokok miliknya, PT Djarum.

pabrik djarum

rokok djarum

Pemerintah menyambut Asian Games tahun ini dengan mengucurkan dana bonus 1,5 Miliar bagi peraih emas. Langkah ini dianggap bukan motivasi baik untuk seluruh atlit yang akan bertanding, ujar Bambang Hartono. Ia akan menyumbangkan bonus tersebut kepada organisasi PB-GABSI jika mendapatkan emas.

Ajang olahraga Bridge akan dilangsungkan pada 21 Agustus-2 September, Bambang Hartono yakin akan mendapatkan emas, melihat persiapan yang sudah ia lakukan. Sebagai catatan, ia adalah atlit tertua di ajang Asian Games 2018.




Membela Nikita Mirzani yang Disebut Wanita Kerdus Hanya Karena Memegang Rokok

Nikita Mirzani kembali dihujat netizen. Kali ini ia dihujat hanya karena menggunakan hijab dan kedapatan memegang dengan santainya bersama teman-temannya. Hal ini terjadi pada 5 Agustus lalu, saat Nikita sedang berada di Bali.

nikita mirzani

Orang yang mengabadikan momen tersebut adalah Andre. Melalui akun IGnya, ia mengunggah foto selfie dengan latar Nikita Mirzani sedang memegang rokok. Tak hanya itu, di foto itu ia tuliskan status cewek kerdus 2018. Hal ini kemudian diunggahnya ke IG pribadi dan langsung mendapat respon bermacam-macam.

Banyak di antara komentar yang muncul isinya menghujat Nikita sebagai kerdus, alias kerudung dusta. Ada cemoohan yang menyebut; “Sudah pakai hijab kok tingkah lakunya enggak dijaga sih mbak”. Ada pula yang menyindir, “Ini yang dibilang sudah rajin ikut kajian dan istiqomah?”

rokok

Netijen selalu merespon cepat jika ada wanita berhijab namun merokok. Seolah-olah perbuatan merokok itu adalah haram dan tak baik dilakukan oleh wanita berhijab. Belum lagi jika ia adalah public figure, yang seringkali dianggap sebagai contoh bagi seluruh masyarakat.

Menjawab perdebatan ini, kita harus kembali ke wilayah privasi dan status masing-masing orang. Tentu akan sangat susah jika seluruh kehidupan pribadi kita tak diketahui masyarakat (untuk artis/public figure). Sedikit saja perbuatan yang dianggap tak baik akan langsung mendapat cemoohan dan sindiran. Apalagi jika artis tersebut adalah seorang perempuan. Akan sangat beresiko jika seorang perempuan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan laki-laki. Hal ini sering terjadi di masyarakat saat ini.

perempuan merokok

Untuk itu perlu adanya edukasi perlahan-lahan. Bahwasanya segala tindakan yang dilakukan oleh manusia dewasa (18 tahun ke atas) adalah hal yang sudah bisa ditanggung sendiri resikonya. Dan kita sebagai masyarakat umum, harus sadar akan hal itu. Berpikir positif akan sesuatu hal itu penting untuk dilakukan. Kita, belum apa-apa mudah sekali menjatuhkan stigma negatif terhadap hal yang tak kita sukai, atau hal yang kita anggap buruk.

perempuan merokok

Hal yang dilakukan oleh Nikita Mirzani adalah hal yang biasa saja. Hentikan stigma-stigma negatif khususnya kepada perempuan. Merokok itu hal yang legal, ia tak ada hubungannya dengan sikap dan perilaku. Merokok adalah satu hal, dan akhlak adalah hal yang lain.

Seorang perempuan tidak layak dikatakan buruk hanya ia merokok, sama seperti lelaki tidak pantas dikatakan banci hanya karena ia suka merias diri.




Kebiasaan Merokok di Kraton Mataram

Pada tahun 1613 sampai 1645, para duta VOC berkunjung ke kerajaan Mataram yang saat itu berada dalam pemerintahan Sultan Agung. Saat itu salah satu duta VOC takjub akan sosok Sultan Agung. Beliau tampak gagah, tatapannya layaknya singa, tajam. Berpakaian batik, lengkap dengan topi dan kain linen yang membalut kepalanya. Ia juga dikelilingi dan dilayani abdi setianya. Semua abdi lengkap dengan pakaian adat Jawa lengkap dengan bahan-bahan rempah, seperti sirih, tembakau dll yang berada dalam cerana emas. Juga ada kendi dan cangkir khas Jawa.

orang merokok

Informasi ini kemudian diperjelas dengan gambaran adanya abdi perempuan yang duduk berlutut di atas lantai sambal membawa sebuah tombak panjang di samping Sultan Agung. Sri Baginda Sultan Agung selalu merokok dan tidak banyak mengkonsumsi sirih. Sultan Agung merupakan salah satu perokok berat. Hal ini dipertegas salah satu utusan VOC, di mana saat audiensi, Sri Baginda merokok menggunakan pipa berlapis perak.

Saking seringnya merokok, para pembantu Sri Baginda Sultan Agung selalu menyiapkan upet (tali api-api) berjaga-jaga jika rokok Sultan Agung mati.

bungkus rokok

Tradisi merokok dalam kraton Mataram ini terus berlanjut saat kepemimpinan Sunan Mangkurat Mas I. Beliau adalah pengganti mangkatnya Sultan Agung pada tahun 1645. Hal ini diketahui dari informasi utusan VOC yang bertamu ke kerajaan Mataram. Saat itu suguhan untuk para utusan VOC di kerajaan Mataram adalah sajian buah pinang, tembakau dan secangkir teh.

orang merokok

Dua informasi penting ini menjadi catatan sejarah menarik soal kebiasaan merokok dalam Kraton Mataram, dari mulai kebiasaan Sri Baginda merokok menggunakan pipa, sampai suguhan wajib bagi para tamu yang berupa sajian buah pinang, tembakau, dan teh.

Kebiasaan merokok ini kemudian dilanjutkan pada pemerintahan Sunan Paku Buwono I, putra Sunan Amangkurat I, dan raja Mataram keenam (1703-1719). Sunan Paku Buwono I merokok denga dua cara, pertama menggunakan pipa yang terbuat dari buluh, sedangkan cara kedua yakni dengan mengisap rokok dalam bentuk bungkus (tembakau yang digulung dengan daun).

rokok klobot

Kebiasaan merokok di Kraton Mataram ini dijelaskan secara detail dalam buku Hikayat Kretek pada halaman ke 84. Buku ini hasil karya Amen Budiman dan Onghokham, KPG terbit tahun 2016. Silakan membaca sejarah kretek di Indonesia, di buku ini lengkap sekali data dan informasi menyoal kretek.




Persaingan Kretek melawan Rokok Putih

Sejak jaman Pemerintahan Hindia Belanda, persaingan kretek dengan rokok putih sudah berlangsung. Anehnya jaman dulu, Pemerintah Hindia Belanda, justru menaruh perhatian lebih terhadap Kretek. Ini dibuktikan dengan kebijakan-kebijakan dan usaha yang dilakukan Pemerintahan Hindia Belanda. Salah satunya dengan memberikan dispensasi kepada Pabrik rokok Nitisemito untuk mengangsur utang pajak dan membuka pabrik rokok. Jaman dulu, Pemerintah Hindia Belanda sadar betul, pemasukan tertinggi didapatkan dari hasil pajak rokok kretek.

bungkus rokok

Sejak abad ke-20, ekspansi rokok putih sudah menyebar ke nusantara, akibat jumlah impor yang tinggi. Kisaran tahun 1923, jumlah impor rokok putih mencapai kurang-lebih 1 Miliar batang rokok putih setiap tahun. Jumlah ini semakin besar ketika perusahaan rokok putih mendirikan pabriknya di daerah Cirebon dan Surabaya oleh BAT (British America Tobaco). Pada tahun 1931 jumlah produksi rokok putih di nusantara sudah membesar ke angka 7 M batang rokok putih selama setahun. Belum lagi ditambah jumlah impor rokok putih yang membesar di angka seratus juta batang di tahun yang sama. Artinya pada tahun 1931 tersebut jumlah rokok putih yang ada dan beredar di Nusantara ada 7,1 Miliar batang rokok.

bungkus rokok

Kalau dibandingkan pada tahun yang sama, jumlah rokok kretek yang beredar di Nusantara berkisar 6,5 Miliar batang. Jumlah yang masih kalah banyak dari rokok putih. Artinya rokok putih benar-benar ancaman serius bagi industri rokok kretek di Nusantara. Padahal rokok kretek di Nusantara sudah berdiri lama, dan dianggap sebagai salah satu industri yang menyerap banyak jumlah tenaga kerja dan memberikan pemasukan tinggi bagi Negara.

bungkus rokok

Melihat fenomena itu, Pemerintah Hindia Belanda mengmabil keputusan dan kebijakan penting. Cukai rokok putih dinaikkan, dimahalkan dibandingkan dengan rokok kretek. Membuat kebijakan tidak boleh adanya pembelian mesin rokok, hal ini dimaksudkan untuk mencegah adanya produksi tinggi rokok putih pada zaman tersebut.

Aturan-aturan Pemerintah Hindia Belanda itu berlangsung cukup lama, dan termasuk kebijakan tepat untuk membantu Industri Kretek di Nusantara. Pabrik-pabrik, usaha rumahan, usaha kecil kretek pada zaman tersebut sangat terbantu dan senang dengan adanya keberpihakan Pemerintah kepada mereka.

bungkus rokok

Kalau kita bandingkan dengan era sekarang, Pemerintah Indonesia malah menyerang, memusuhi bahkan berusaha menutup industri rokok kretek. Aneh tapi nyata, sungguh miris melihat kenyataan yang ada di zaman sekarang ini.