Tradisi Among Tebal Awali Tanam Tembakau Masyarakat Lereng Gunung Sumbing Temanggung

BUNGKUS ROKOK
Kabut tebal menyelimuti kawasan tegalan Ndeles di lereng Gunung Sumbing wilayah Desa Legoksari Kecamatan Bulu Temanggung ketika petani menggelar ritual Among Tebal sebagai mengawali menanam tembakau.

Ritual diawali dengan berdoa di lahan pertanian masing-masing, secara pribadi atau keluarga. Jajan pasar, jenang dan bunga tujuh rupa tersaji di tengah lahan pertanian, tidak lupa sebelum berdoa membakar kemenyan.
BUNGKUS ROKOK

Usai berdoa pada Tuhan yang Maha Esa dalam menanam, memelihara, hingga panen tembakau, petani selanjutnya menuju ke sebuah tanah lapang yang dikenal Sekinjeng untuk berdoa bersama.

Tumpeng golong gilig, ingkung ayam jantan, jenang, jajan pasar, berbagai buah dan hasil pertanian disajikan di atas tikar. Sajian ini lengkap dan dalam jumlah besar. Di lokasi tersebut petani berdoa bersama untuk keselamatann warga, dengan dipimpin tokoh agama setempat, yang dilanjut makan bersama.
BUNGKUS ROKOK

Among Tebal adalah warisan budaya nenek moyang yang tidak bisa ditinggalkan. Ritual tersebut memilii nilai-nilai kearifan lokal. Masyarakat setempat menggelar Among Tebal sebelum bertanam tembakau dan palawiya.




Cengkeh dan Ramuan Sang Dukun Bayi

Seorang peraji (dukun bayi) keberadaan sangat penting dalam prosesi kelahiran manusia, terlebih di era dahulu, sebelum medis berkembang dan tersebar sampai pelosok.

Peraji biasanya mewarisi pengetahuan oleh orang tuanya. Itu pula yang diceritakan oleh Sumarni Abdullah, dikutip dari buku “Ekspedisi Cengkeh”, yang mewarisi pengetahuan dari ibunya Cindar Do Sai. Mulanya ibunya mendampinginya melakukan pekerjaan sampai kemudian dianggap bisa.

Perannya seorang peraji tidak hanya dilakukan ketika proses kelahiran. Tapi mencakup masa persiapan dan pasca kelahiran.

Di masa ibu mengandung seorang peraji sudah berperan terutama dalam memastikan posisi bayi telah sesuai. Dengan menggunakan minyak yang terbuat dari beberapa butir cengkeh dan minyak kelapa itu dia akan mengurut ibu yang sedang hamil, mengurut perutnya. Mengurut itu dilakukan untuk mengetahui posisi bayi telah tepat sehingga proses kelahiran bisa dilaksanakan.

Dalam prosesi kelahiran, begitu jabang bayi lahir, Sumarni akan membalurkan cengkeh dan pala yang telah ditumbuk sampai halus kemudian diletakkan di ubun-ubun jabang bayi. Ramuan ini bermanfaat agar batok kepala si bayi lekas mengeras. Dalam proses pasca kelahiran tersebut pula, ia akan membakar batok kelapa dan baranya diusapkan ke tubuh bayi sehingga tubuh bayi tetap hangat.

Tidak hanya jabang bayi yang dirawat pasca kelahiran, tetapi juga ibunya. Di bagian ini, ia menggunakan daun cengkeh untuk melakukan tugasnya. Beberapa daun cengkeh diletakkan di belangga berisi air. Lalu belangga dipanaskan di atas tunggu. Sampai mendidih. Dan kemudian ramuan dibiarkan sampai suhunya turun. Setelah suhu turun, ibu yang baru melahirkan diminta duduk di kursi yang didesain khusus untuk mengalirkan uap air cengkeh ke atas. Proses ini untuk mengeluarkan keringat ibu sehingga tubuhnya lekas pulih pasca melahirkan.

Perawatan selanjutnya, dilakukan setiap dua hari sekali, sampai dua minggu setelah proses kelahiran. Di sini peran seorang peraji juga membantu ibu yang baru memiliki anak cara merawat bayi, dari memandikan sampai menyusui dan lain sebagainya. Bila keduanya sehat, maka pekerjaan seorang peraji berakhir. Proses itu membutuhkan waktu minimal 44 hari.




Kisah Soekarno Mencandai Fidel Castro soal Rokok Inggris

Presiden Indonesia pertama, Bung Karno adalah seorang perokok. Dalam berbagai kesempatan, foto Soekarno saat sedang merokok kerap tertangkap kamera wartawan. Tak heran jika kemudian banyak beredar foto-foto dirinya saat sedang merokok, baik sendiri maupun saat bersama dengan tokoh-tokoh lain.



Ada banyak kisa tentang rokok Soekarno. Dari mulai soal inspeksi rokok di istana, sampai kisah bagaimana dia menyambung rokok dengan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev atau saat menyalakan rokok untuk Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru.

soekarno Khrushchev

Salah kisah menarik tentang Soekarno dan rokok kisahnya bersama pemimpin revolusioner Kuba Fidel Castro. Fidel Castro dan Soekarno memang dikenal sebagai sahabat akrab, keduanya kebetulan sama-sama perokok.

Dalam salah satu kunjungannya ke Havana, Kuba pada Mei 1960, Soekarno dalam perbincangan tentang rokok dengan Fidel Castro.

Kala itu, Castro menawarkan cerutu khas Kuba kepada Sukarno. Mereka lalu menikmati cerutu bersama.

Seakan tak mau kalah, Sukarno kemudian menyodorkan rokok kegemarannya. Castro terkejut. Rokok yang ditawarkan Bung Karno ternyata adalah rokok merek Player’s, merek rokok yang diproduksi di Inggris.



Castro lantas mempertanyakan soal rokok buatan negara imperialis itu. Bung Karno menjawabnya dengan nada sinis.

“Betul. Kaum imperialis dan kapitalis itu harus diisap jadi asap dan debu,” jawab Soekarno.

Keduanya kemudian tertawa bersama.




Perda KTR yang Berpotensi Melanggar Hak Konsumen

Selama ini, sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak hak perokok sebagai konsumen dikesampingkan. Pemerintah menerapkan aturan kawasan tanpa rokok di berbagai area seperti tempat kerja, tempat umum dan tempat lainnya, namun di satu sisi, area-area tersebut tidak menyediakan tempat khusus/ruangan untuk merokok. Kalaupun ada, biasanya dibuat tidak manusiawi: tempatnya sempit, berdesakan, malah terkadang jauh, minim penunjuk arah menuju tempat merokok, dan terkadang ditempatkan dalam ruangan yang telah diatur satu ruangan dengan cafe.

rokok dan kopi

Kalau mau merokok harus membeli sesuatu dari cafe tersebut. Pada intinya perokok dibuat tidak nyaman dalam melakukan aktivitas merokok.

Ada hak-hak konsumen yang tak dipenuhi oleh Pemerintah, khususnya pemerintah daerah di masing-masing kota/kabupaten seluruh Indonesia. Padahal dalam aturan yang berlaku, ada banyak hak-hak yang harus dipenuhi kepada konsumen.

Konsumen seharusnya punya hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa; hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.

Konsumen juga punya hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.

Selain itu, ada hak untuk didengan pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. Kemudian hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.

bungkus rokok

Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Dari poin-poin terkait hak konsumen, salah satu lembaga yang bertugas mengawal, mengadvokasi dan turun tangan langsung ke konsumen adalah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Namun, entah kenapa, terkait produk rokok, YLKI enggan memberikan advokasi jika terjadi permasalahan terkait hak-hak konsumen produk rokok. YLKI sepertinya sedang melakukan tindakan tak adil terhadap para konsumen rokok. Dan ini terjadi terus-menerus.

Begitupun dengan pemerintah sebagai sebuah institusi yang harusnya memberikan perlindungan dan pemenuhan hak kepada warga negaranya, namun malah tak dilakukan.

rokok

Di beberapa daerah diberlakukan Perda KTR yang banyak mendiskriminasikan para konsumen rokok. Dengan tak memberikan ruangan khusus merokok. Hal tersebut seharusnya tak terjadi.

Pemberlakuan aturan-aturan yang masih mendiskriminasi para konsumen rokok harus segera dihentikan. Begitupun dengan Perda KTR.

Aktivitas merokok adalah hal legal dan dilindungi oleh Undang-undang. Para konsumen rokok juga adalah salah satu penyumbang perekonimian negara dan wajib dipenuhi hak-haknya, sebab rokok adalah produk resmi bercukai. Sudah seharusnya kita bangga dan terus menuntut adanya pemenuhan hak sebagai perokok.




Mencontoh Kantor Daerah Bakeuda yang Sediakan Ruang Merokok Demi Kenyamanan Warga

Banyak kota dan kabupaten di Indonesia yang sedang menerapkan Perda KTR dengan seadil-adilnya. Mengingat besarnya kontribusi Industri Hasil Tembakau terhadap Kas Negara. Salah satu daerah yang menerapkan ruangan khusus merokok di area perkantoran adalah Banjarmasin.

bungkus rokok

Dalam kantor pemerintah yang urusannya adalah pelayanan publik, kantor Badan Keuangan dan Aset Daerah (Bakeuda) Kota Banjarmasin telah lama membuat ruangan khusus merokok. Hal ini didasarkan pada Perda Nomor 7 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Peraturan Wali Kota Banjarmasin, Nomor 41 Tahun 2013 soal petunjuk pelaksanaan perda KTR.

bungkus rokok

Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (Bakeuda) Kota Banjarmasin, Subhan Noor Yaumil menegaskan, kantor Bakeuda Banjarmasin sudah cukup lama menerapkannya. Beliau ingin bersikap adil terhadap masyarakat yang melakukan administrasi di kantornya.

rokok dan kopi

Dijelaskannya lebih lanjut, pada halaman belakang samping Kantor Bakeuda disediakan ruangan khusus merokok dengan dinding kaca berwarna hitam. Penanda ini untuk membedakan secara jelas, mana ruangan untuk merokok dan mana ruangan yang bebas asap rokok.

rokok

Pihak Bakeuda Banjarmasin ingin setiap warganya tetap merasa nyaman ketika berurusan dan membayar pajak di Kantor Bakueda. Hal ini yang harusnya di contoh oleh kota dan kabupaten lain di Indonesia yang menerapkan Perda KTR. Menghargai para perokok di semua area yang menerapkan Kawasan Tanpa Rokok.




Bos Djarum: Industri Rokok Bisa Punah Jika Tidak Berinovasi

Chief Operating Officer (COO) PT.Djarum, Victor Hartono berpendapat bahwa tak ada industri yang bertahan selamanya, termasuk rokok. Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Building a Brand and a Legacy di Millennial Summit (IMS) 2019 yang digelar IDN Times di Bhinneka Stage, Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Sabtu (19/1) lalu.

bungkus rokok

Victor yakin betul bahwa semua pemilik bisnis harus punya rasa kekhawatiran kalau bisnis yang dijalaninya akan punah suatu saat nanti. Mengapa harus punya rasa khawatir, karena banyak hal yang bisa terjadi dalam dunia bisnis. Menurut Victor, ada beberapa faktor yang mampu menyebabnya punahnya sebuah industri. Salah satu yang paling sering terjadi adalah soal inovasi.

Dalam industri rokok, khususnya Djarum, Victor Hartono mengatakan inovasi terakhir Djarum adalah rokok filter. Inovasi pada industri rokok, sangatlah lemah. Kalaupun ada itu hanya faktor rasa saja. Seperti menambahkan flavor breeze pada rokok filter.

bungkus rokok

Victor mengaku belajar banyak dari Kodak. Industri Kodak pernah jaya pada zamannya. Kamera manual ini pernah jaya hingga abad ke 20an. Namun kehadiran kamera digital mampu menggeser pengguna Kodak. Hingga akhirnya pada abad ke-21 Kodak resmi dinyatakan pailit. Salah satu contoh lemahnya pembaruan, membuat Kodak akhirnya bangkrut dan tak mampu bertahan dengan adanya kamera digital.

pabrik rokok djarum

Selain itu, Victor juga belajar dari pengalaman kakek buyutnya. Kakek Victor sebelum berbisnis rokok, duluya berbisnis mercon atau petasan di daerah Rembang yang produknya bernama Leo. Bisnis mercon Kakeknya Victor ini sempat jaya, namun akhirnya ditutup saat Jepang dan Belanda menginvasi Nusantara. Alasannya karena Belanda ataupun Jepang, tidak mau ada pabrik mesiu yang beroperasi di Nusantara. Dari peristiwa tersebut, pabrik mercon akhirnya mati dan banyak ditinggalkan dan ilegal hingga sekarang. Dari peristiwa inilah Victor Hartono belajar, bahwa setiap Industri selalu punya masanya.

rokok

Pada akhirnya, menurut Victor, sebuah industri harus melakukan pengembangan bisnis. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, pebisnis harus aktif melakukan investasi pada bidang lain.

Hal itu pula yang dilakukan Djarum. Membangun investasi pada bidang lain di luar industri rokok. Hal ini dilakukan agar supaya jika salah satu bisnis yang dibangun bangkrut, maka ia dapat ditopang dengan bisnis lainnya. Tentu saja hal yang paling utama adalah menjaga semua lini bisnis tersebut dapat berjalan dengan baik. Namun, rasa kekhawatiran harus terus ditumbuhkan agar banyak inovasi atau tindakan yang dilakukan para pebisnis untuk menjaga keberlangsungan bisnisnya. Sekali lagi, tak ada bisnis yang kekal, semua akan punah dan hilang kapan saja.




Jusuf Kalla Susah Naikkan Cukai Rokok Karena Bersentuhan Langsung Dengan Petani

Dalam kesempatan di seminar dan diskusi soal “PEMBIAYAAN YANG BERKELANJUTAN UNTUK JAMINAN KESEHATAN NASIONAL, MENUJU UNIVERSAL HEALTH COVERAGE DI INDONESIA” di Auditorium CSIS, Jakarta, Kamis lalu, 17 Januari 2019, Wakil Presiden RI Bapak Jusuf Kalla berbicara soal cukai rokok.

pabrik rokok

Menurut beliau, Pemerintah mengambil keputusan tidak menaikkan harga cukai rokok karena banyak pertimbangan. Salah satunya dari para petani-petani tembakau dari seluruh Indonesia. Juga banyak suara keberatan jika harga cukai rokok dinaikkan di tahun ini. Hal ini dikarenakan masih banyak industri rokok kelas kecil dan menengah yang berjuang bertahan hidup dari rokok.

penjual tembakau

Para petani tembakau juga demikian. Harga tembakau yang tak stabil, iklim yang tak bisa ditebak, banyak memengaruhi panen dan kualitas tembakau yang dihasilkan. Melihat fakta-fakta ini, Pemerintah akhirnya sepakat untuk tak menaikkan harga cukai rokok.

rokok

“Memang tahun lalu ada rencana untuk menaikkan pajak rokok, tapi agak tertunda. Sekali lagi kalau dinaikkan yang protes itu petani tembakau,” kata Jusuf Kalla.

rokok

Langkah pemerintah ini tentu layak untuk diapresiasi. Produksi tembakau dari petani, harus lebih baik lagi. Industri-industri kecil dan menengah harus bisa hidup dan terus tumbuh. Produksi rokok juga harus dijaga kualitas serta kuantitasnya. Peredaran rokok ilegal harus diberantas, agar penerimaan cukai rokok untuk Negara tercapai targetnya untuk APBN.