Membantah Hoax Kandungan Darah Babi pada Rokok

Isu tentang kandungan darah babi pada filter rokok kembali mencuat. Isu yang cukup meresahkan banyak orang ini sejatinya adalah isu lama dan isu basi yang hampir selalu berusaha untuk dimunculkan kembali.

Padahal, BPOM sebagai lembaga resmi pengawas obat dan makanan pernah menegaskan bahwa tidak benar ada darah babi dalam filter rokok yang beredar di Indonesia.

rokok

Pernyataan resmi BPOM RI :“Isu ini pernah muncul pada 2010 dan 2013. Berdasarkan hasil uji filter rokok yang dilakukan di laboratorium Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN) Badan POM RI pada tahun 2010 menggunakan Metode DNA, dari lima merek rokok berfilter yang diuji, TIDAK TERDETEKSI adanya kandungan DNA babi.”

Pernyataan tersebut dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) pada 31 Oktober 2017. Pernyataan tersebut oleh BPOM dirasa penting untuk dikeluarkan sebab tiap tahunnya selalu saja isu dugaan adanya Babi dalam rokok diembuskan. Hoax ini terus-menerus direproduksi oleh aktivis anti-rokok.

rokok

Hoax tentang kandungan darah babi pada filter rokok ini dihembuskan di tiap seminar, melalui media elektronik, maupun melalui sosial media.

Filter rokok dibuat dari bahan aseto, sejenis tumbuhan padi-padian yang hidup di daratan Eropa dan tumbuh setelah musim salju. Sehingga, meskipun pabriknya ada Indonesia, namun bahan dasarnya masih diekspor. Kemudian mereka juga menjelaskan bahwa dalam pembuatan rokok tidak boleh menggunakan unsur minyak. Kalaupun untuk perekat, digunakan bahan silikon yang food grade (dapat dikonsumsi tubuh). Informasi soal filter rokok ini dikeluarkan dari hasil riset PT Filtrona Indonesia. Sebuah pabrikan yang memproduksi filter rokok, tempatnya di Surabaya, Indonesia.

rokok

Demi keabsahan bahwa dalam rokok tidak mengandung Babi, juga dikeluarkan hasil riset lembaga terpercaya. Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), mereka segera melakukan investigasi dan riset. Hasilnya adalah filter rokok di indonesia tidak mengandung darah babi. Dan LPPOM MUI menyatakan: rokok di indonesia aman dari sel darah babi. Dengan hasil penelitian dari MUI, maka gugur sudahlah isu filter rokok mengandung darah babi yang haram bagi umat muslim.

Hasil riset, penelitian dan beberapa fakta di atas, kita bisa tahu bahwa tak ada kandungan babi di dalam rokok. Penguatan tak adanya babi dalam rokok juga sudah dikeluarkan oleh BPOM RI, diperkuat oleh MUI dan penjelasan detail soal kandungan filter rokok juga sudah dikeluarkan ke publik. Maka, hoaks babi dalam rokok ini tak perlu lagi dipercaya. Acuhkan saja.




Perkembangan Tembakau di Jepang

Sebuah catatan harian Kapten Richard Cocks pada tanggal 7 Agustus 1615, menjelaskan bahwa Jepang sudah menggunakan tembakau pada abad ke-16. Dalam catatan harian tersebut, tertulis: “Gonosco Dono datang ke rumah orang Inggris, dan di antara pembicaraan lainnya menyatakan kepada saya (Kapten Richard Cocks) bahwa raja Daimyo dari Hirodo telah mengirimkan perintah kepadanya untuk membakar tembakau dan tidak seorang pun bisa “minum” dalam pemerintahannya.”

tembakau

Catatan Kepala perdagangan Inggris di Hirado Jepang itu menjelaskan tentang jalannya pemerintahan dan perdagangan Jepang dan Inggris dari tahun 1613 sampai 1621. Selama satu dasawarsa tersebut Jepang ternyata sudah mengenal tembakau. Namun, penting untuk diketahui bahwa tembakau bukan tanaman asli dari Jepang.

tembakau

Jepang mengenal tembakau berkat orang-orang Portugis -yang mereka sebut Namban- menjelang akhir abad ke-16. Daun-daun tembakau, diperdagangkan oleh orang-orang Portugis, yang kemudian ditanam pada tahun 1605 di Nagasaki.

Dari perkebunan di Nagasaki tersebut, penanaman tembakau kemduian diperluas skalanya pada abad ke-17. Daun Tembakau mulai digunakan untuk merokok dan sebagian lagi digunakan untuk bahan penyembuhan. Data-data penggunaan daun tembakau untuk kesehatan ini ditulis di catatan harian Kapten Richard Cocks.

tembakau

Raja Daimyo dari Hirodo bahkan sempat melarang penggunaan tembakau sebagai rokok dan bahan penyembuhan pada abad ke-16 tersebut, dikarenakan belum adanya ujicoba secara klinis. Pada saat itu daun tembakau digunakan semua kalangan, mulai dari anak kecil, hingga orang dewasa. Daun tembakau direbus dan diminum airnya untuk penyembuhan. Uji coba klinis belum maksimal dilakukan pada saat itu, sehingga Raja Daimyo memerintahkan untuk memusnahkan tembakau ke seluruh daerah perkebunan di Jepang.

Selain untuk merokok dan untuk penyembuhan, di Jepang juga ditemukan penggunaan pipa untuk menghisap tembakau. Fakta adanya pipa tembakau ini dijelaskan di catatan harian Wiliam Adams; “Empat buah pipa tembakau telah terjual di Kyoto.”

perempuan merokok

Kesemua fakta dan catatan sejarah ini nyata adanya. Sejak zaman dulu, tembakau bisa digunakan sebagai bahan penyembuh. Catatan-catatan sejarah ini bisa anda baca secara lengkap di buku Hikayat Kretek. Buku yang ditulis oleh Amen Budiman dan Onghokham, diterbitkan pada tahun 2016 oleh Gramedia




Aturan Tirai Rokok di Minimarket Bogor Menuai Banyak Protes

Polemik Perda Kawasan Tanpa Rokok Kota Bogor banyak menuai protes. Aturan tentang pelarangan memajang bungkus rokok pada etalase dan display toko. Aturan yang kemudian diperluas penerapannya ke dalam pasar-pasar tradisional Kota Bogor. Aturan ini sudah diterapkan di beberapa minimarket yang ada di Kota Bogor.

bungkus rokok

Salah satu yang terus digiatkan adalah Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2009, tentang Kawasan Tanpa Rokok Kota Bogor, yang melarang iklan rokok di ruang publik. Memajang rokok pada display, rak kaca toko, adalah melanggar hukum, sehingga jika ingin memajang jualan rokok, harus ditutup dengan tirai, agar tak nampak secara jelas di publik.

Aturan ini tentu saja memberatkan para pengusaha industri rokok. Rokok adalah produk dagangan yang sama dengan barang dagangan lainnya, sama-sama harus bisa dipajang di dalam toko. Bagaimana bisa barang dagangan yang dijual harus ditutup tirai atau kain, padahal rokok adalah produk legal yang punya kekuatan hukum. Produk yang bisa diperdagangkan dan dikonsumsi banyak orang.

orang merokok

Rokok memang salah satu produk yang diawasi oleh Pemerintah, terbukti dengan adanya label cukai di kemasannya. Artinya produk ini punya aturan yang tertulis dibuat Pemerintah. Aturan yang tertuang dalam PP 109/2012 adalah peraturan pemerintah tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Aturan jelas ini kemudian ditabrak dengan Perda nomor 12 tahun 2019 Kota Bogor.

rokok

Salah satu pasal dalam perda Kawasan Tanpa Rokok Kota Bogor yang menabrak aturan ada di pasal 1 Nomor 11. Disebutkan bahwa Kawasan Tanpa Rokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan Produk Tembakau.

Aturan perda tersebut menabrak PP 109/2012 di pasal 50 ayat 2, yang menjelaskan: “Larangan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan produk tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan produk tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok.”

orang merokok

Hal ini yang kemudian membuat gabungan asosiasi pengusaha, asosiasi rokok dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) membawa perdebatan ini ke Kementerian, termasuk memberikan masukan kepada Pemerintah Kota Bogor, agar aturan ini ditinjau ulang dan direvisi.

Berbagai Forum Diskusi dilakukan terus menerus dengan Walikota Bogor, agar meninjau kembali Perda ini. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutannya. Apakah aturan yang merugikan banyak pihak ini akan terus diterapkan atau malah dihapuskan. Semoga para wakil rakyat kita di sana mendengar aspirasi rakyatnya.




Yang Bikin Miskin Itu Konsumerisme, Bukan Rokok

Konsumerisme adalah paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya. Sebuah gaya hidup yang tentu saja jauh dari kata hemat. Arti kata ini tertera jelas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gaya hidup yang jangan ditumbuhkan pada masyarakat Indonesia, begitu kalimat terakhir arti kata Konsumerisme. Para tim penulis KBBI pun paham betul bahwa gaya hidup ini sungguh berbahaya.

orang merokok

Segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan akan selalu berakhir tidak baik. Mengkonsumsi barang-barang yang tidak mempunyai kegunaan apa lagi prioritas utama dalam hidup Anda termasuk pekerjaan yang sia-sia dan tentu saja akan berakhir dengan penyesalan.

Konsumerisme menjadi momok menakutkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menakutkan karena bisa membuat orang jatuh miskin, bahkan sampai menjadi gila hingga menyebabkan kemelaratan akut.

Komoditas yang dikonsumsi oleh masyarakat kita terbagi atas dua hal. Pertama komoditas makanan dan yang kedua, komoditas non makanan.

Dalam data BPS disebutkan bahwa: jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, daging sapi, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, dan gula pasir. Sementara komoditi non makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis kemiskinan di perkotaan maupun perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

rokok

Data ini sedikit mengejutkan, bahwa jenis-jenis komoditas makanan dan non makanan adalah hal-hal penting bagi masyarakat Indonesia. Data tersebut pun diambil di masyarakat perkotaan dan juga masyarakat pedesaan. Entah ini memang karena faktor rendahnya pendapatan di Indonesia. Atau karena harga-harga komoditas tersebut sangatlah tinggi hingga masyarakat yang mengkonsumsinya langsung jatuh dalam garis kemiskinan.

Kalau kita mau dedah satu-per-satu, sebenarnya budaya konsumerisme sudah menjangkiti masyarakat Indonesia. Barang-barang keperluan yang tak bermanfaat dibeli sebanyak-banyaknya, walau ujungnya nanti tak dipakai dan malah dibuang. Lihat bagaimana pusat perbelanjaan pakaian akan disesaki masyarakat jika terdapat diskon besar-besaran. Tak peduli hari, minggu atau bulan, setiap ada diskon, harus digunakan sebaik mungkin membeli sebanyak-banyaknya. Misalnya lagi soal gadget, gawai elektronik apabila keluaran terbaru di pasaran, harus kita beli, padahal kita masih punya yang lama, dan masih berfungsi.

Ukuran kebahagiaan, kesenangan, masing-masing orang sangatlah berbeda. Ukuran inilah yang kemudian akan menempatkan seseorang menjadi pribadi yang konsumtif (berlebihan) atau malah pribadi yang biasa-biasa saja. Semua itu kembali pada manusianya sendiri. Dengan berkaca pada hal tersebut, otomatis, variable yang ditentukan oleh BPS di atas menjadi tidak tepat, mengingat begitu banyaknya budaya di Indonesia. Banyaknya suku, kehidupan bermasyarakat yang berbeda-beda di tiap daerah. Artinya ukuran-ukuran menentukan kemiskinan terutama rokok, menjadi tidak tepat.

Rokok dimasukkan ke dalam komoditas makanan. Padahal kalau kita kaji lagi, rokok jelas-jelas bukan makanan. Bagaimana dengan pulsa telepon dan pulsa internet, harusnya ini juga dimasukkan, karena kita juga mengkonsumsinya secara rutin. Pun juga dengan beragam barang lainnya, seperti baju, celana, tas, sepatu, motor, mobil dan barang-barang lainnya.

bungkus rokok

Apa barang tersebut tidak dimasukkan ke dalam komoditas yang bisa menentukan seseorang itu masuk dalam garis kemiskinan?

Mungkin penarikan data dan variable yang digunakan BPS tidak memakai barang tersebut. Bagi mereka, barang-barang tersebut tak bisa membuat miskin. Belum lagi soal siapa yang masuk dalam survey data BPS ini. Masyarakat Indonesia sangatlah heterogen, terbagi atas tiga kelas; bawah, menengah dan atas.

rokok

Apa survey ini benar-benar mengambil sampel ketiga kelas tersebut secara adil dan proporsional? Saya rasa sih tidak.




Jejak Rokok Kretek di Tanah Jawa

Kretek adalah warisan budaya khas bangsa Indonesia. Bahan bakunya; tembakau dan cengkeh tumbuh subur di tanah Indonesia, kertasnya dari Indonesia, sausnya dari Indonesia. Proses penciptaan kretek adalah proses penciptaan sebuah karya dari bahan-bahan hasil bumi Indonesia dan oleh orang Indonesia.

Jejak tembakau dalam rokok (kretek) di negeri ini -terutama Jawa- telah ada sejak lampau. Serat Subasita karangan Ki Padmasusastra (1914) menjelaskan budaya mengolah tembakau menjadi rokok kretek adalah cerminan dari perilaku kesantunan orang Jawa.



Disebutkan dalam serat itu, jika hendak menghisap atau menikmati tembakau lihatlah kanan kiri, jangan dekat dengan wanita hamil dan anak-anak. Jika bertamu ke rumah orang lain, sebisa mungkin jangan merokok. Apabila ada asbak di meja tuan rumah, berarti pemilik rumah memperkenankan tamunya untuk merokok. Namun apabila tak ada, idealnya janganlah merokok.

Sementara serat yang lebih lampau, Centhini yang ditulis pada tahun 1814, menyebut olahan tembakau dengan kata “ses” atau “eses”. Hingga detik ini sebagian besar masyarakat perokok di Jawa menyebutnya dengan nama itu.

Dalam serat Centhini dikisahkan bahwa tembakau adalah hidangan wajib bagi para tamu di Jawa karena dengan menghisap tembakau (kretek) segala jarak dan perbedaan diri dapat dihilangkan. Obrolan menjadi lebih cair dan memunculkan aspek kekeluargaan yang kental. Sementara banyak juga yang menyebut kretek dengan nama “udud”. Kata itu dapat ditelusuri dalam Babad ing Sengkala tahun 1602, yang menyebut masuknya tembakau ke Jawa dan aktivitas merokok berbarengan dengan tahun kematian Panembahan Senopati (1601).



Kretek, jika dibakar akan menghasilkan bunyi, keretek, keretek, keretek. Biasanya dinikmati dengan segelas kopi atau juga teh yang kental, lengkap dengan jajanan berupa ubi ataupun pisang goreng. Kebiasan ini masih sering banyak dilakukan masyarakat di Jawa.

J.W. Winter (1824) mengisahkan kehidupan masyarakat Jawa yang tenteram dan damai namun mengandung keunikan tersendiri. Pada abad ke-18 kebutuhan akan tembakau sebagai kretek telah menyedot 25 persen dari gaji orang Jawa yang berprofesi sebagai petani. Maklum, kretek tidak semata dinikmati secara pribadi, namun menjadi suguhan wajib bagi para tamu yang sedang berkunjung. Lebih baik tanpa makanan atau minuman, asalkan ada kretek di meja.



Kretek bukanlah sebuah produk yang membuat sakit si penghisapnya. Kisah Haji Djamhari misalnya, penderita asma yang melinting tembakau dengan campuran cengkeh. Lintingan tersebut kemudian dibakar dan dinikmati. Sensasi segar didapatnya, ia tak lagi berasa sesak, yang kemudian segala aktivitas rutinnya dapat dikerjakan dengan lebih bertenaga. Racikan tak sengaja antara tembakau dengan cengkeh ini kemudian kita kenal dengan sebutan kretek. Kisah Haji Djamhari ini terjadi sekitar abad ke 18, di Kudus.

Kita dapat melihat jejak-jejak persentuhan tembakau dengan manusia Jawa. Tembakau tidak semata berkisah tentang asap dan kesehatan, namun juga kohesi sosial (Aris Setiawan, 2014); tentang keakraban, kerukunan dan saling menghargai. Ada banyak lagi kisah, prasasti tentang jejak tembakau di Indonesia yang masih banyak belum kita ketahui. Budaya, tradisi kultural masyarakat Jawa dan terutama masyarakat Indonesia tentang tembakau perlu kiranya kita lihat lagi dan disebarluaskan. Betapa kayanya budaya kita tentang tembakau di Indonesia.




Menjelajahi Jual Beli Pipa di Grup Komunitas Pecinta Pipa Rokok

Aktivitas merokok tak selamanya dilakukan hanya dengan membakar dan menghisapnya langsung. Ada beberapa orang yang lebih suka menikmati rokok dengan menggunakan pipa rokok. Aktivitas merokok biasa disebut dengan mipa, orang yang melakukannya disebut pemipa.

orang merokok

Pipa biasanya terbuat dari berbagai macam bahan, pipa dari gading gajah yang paling mahal. Beberapa lagi biasanya menggunakan tulang sapi, tanduk kerbau dan tanduk rusa. Ada juga yang terbuat dari bahan baku Ikan, dari giginya dan tulangnya. Ada juga yang berkreasi membuat pipa dari batu-batuan keras, seperti giok, batu bacan.

Bermacam jenis bahan pipa rokok ini dibentuk seperti sedotan dengan salah satu unjung yang lancip sebagai tempat menyedot, sedangkan ujung satunya dilubangi untuk tempat menaruh rokok. Panjangnya pipa juga bervariasi, demikian pula dengan ukuran diameter, semua dibuat berbeda, sehingga tiap perokok dapat mempergunakannya untuk bermacam jenis rokok.

Harga pipa rokok ini bermacam-macam. Paling murah adalah bentuknya yang biasa saja tanpa ada ukiran, dan bahan yang digunakan biasanya yang mudah dicari dan banyak stoknya, pipa rokok dari tulang sapi. Sedangkan yang paling mahal adalah yang tergantung dari ukir-ukiran dan bahannya.

penjual pipa rokok

Pemipa biasanya punya dua sampai tiga pipa pilihan untuk menikmati rokok, karena ukuran rokok filter dengan rokok kretek sangat berbeda.

Pengguna pipa sudah sejak lama ada di Indonesia. Bentuknya pipa rokok pun kini sudah banya dimodifikasi dan mempergunakan bahan-bahan baku yang makin bagus.

Banyaknya pengguna pipa rokok di Indonesa menjadikannya sebagai sebuah ladang bisnis tersendiri. Jual beli pipa rokok menjadi salah satu bisnis di segmen perokok yang cukup menguntungkan.

Ada banyak produsen dan penjual pipa rokok yang menjual produknya, tak terkecuali di pasar online melalui marketplace atau grup jual beli di Facebook.

pipa rokok

Di Facebook, misalnya, ada grup “Komunitas Pecinta Pipa Rokok” yang mana berisi orang-orang pecinta pipa rokok. Di grup tersebut, para anggotanya saling berbagi informasi seputar pipa rokok, juga saling bertransaksi jual beli pipa rokok.

pipa rokok

Harga pipa rokok yang dijual di sana bervariasi dari mulai ratusan ribu hingga jutaan. Para produsen, penjual, bahkan kolektor berlomba-lomba untuk menawarkan pipa dengan ciri khas unik dan ukiran yang rumit nan artistik.

Bagaimana, Anda tertarik membelinya?




Ramadan dan Pembuktian Rokok Tidaklah Adiktif

Memasuki bulan yang penuh rahmat bagi umat Islam, biasanya marak dikampanyekan untuk berhenti merokok. Seolah lupa, kalau sebelumnya mereka biasanya bersorak bahwa rokok merupakan zat adiktif.

rokok

Padahal selama bulan Ramadan, umat muslim yang berpuasa juga menghentikan aktivitas merokoknya. Mereka bisa menahan diri tidak merokok dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Dalam waktu sekitar 13 jam tersebut, mereka bisa menahan diri.

bungkus rokok

Lalu apa efeknya? Tidak ada. Rokok bukanlah candu yang membuat orang menjadi ketergantungan sehingga menimbulkan efek psikologis dan fisik apabila tidak mengonsumsinya.

orang merokok

Rokok semata aktivitas yang masuk kategori kebiasaan, setara dengan kebiasaan minum kopi atau minum teh bagi orang tertentu.

orang merokok

orang merokok

Di bulan Ramadan ini, adalah menjadi pembuktian bahwa kampanye yang menyebutkan rokok sebagai zat adiktif tidak dapat dibenarkan.

Tapi, omong-omong, puasa lancar kan?