Cengkeh: Tanaman Nusantara yang Sarat Nilai Sejarah

Cengkeh merupakan tanaman yang penting dalam perkembangan industri rokok di Indonesia. Cengkehlah yang membedakan rokok Indonesia (kretek) dengan rokok dari negara lain. Ia memberikan aroma dan sensasi rasa tersendiri pada produk.

pemanen cengkeh

Cengkeh adalah salah satu komoditas penting, khususnya digunakan dalam bahan baku rokok kretek. Hampir 96% produksi cengkeh seluruhnya diserap oleh industri rokok kretek di Indonesia.

Di Indonesia, cengkeh awalnya hanya tumbuh di kepulauan Maluku, namun pada perkembangannya, ia kemudian dibudidayakan juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Pada tahun 1970-an, luas lahan cengkeh di Indonesia mencapai 2.387 hektar. Dua decade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada tahun 1990.

cengkeh

Dengan perluasan dan hasil ini, Indonesia mencapai era swasembada cengkeh pada tahun 1991. Sayangnya, pengaturan tataniaga cengkeh oleh Pemerintah dengan membentuk Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) malah justru membuat cengkeh terpuruk. Harga anjlok drastis, jatuh. Para petani cengkeh kecewa, lahan cengkeh dibakar, ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen.

pemanen cengkeh

Akibat hal tersebut cengkeh perlahan-lahan tak diurus, hingga akhirnya pada 1998, BPPC dibubarkan. Jumlah luasan lahan cengkeh kemudian dihitung ulang dan didapatkan luasan 428.000 hektar.

Kini lahan cengkeh dibudidayakan lagi. Luasannya mencapai 500.000 hektar. Sebagian besar hasil produski cengkeh tersebut digunakan untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional. (ditulis ulang dari buku Kretek, Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia)




Kebiasaan Merokok Pangeran Diponegoro

Sosok Pangeran Dipenegoro adalah sosok besar dalam sejarah Indonesia. Ia adalah sosok pahlawan dan pejuang besar dalam melawan penjajah di bumi Jawa.

Perang Jawa yang digelorakan dan ia pimpin merupakan salah satu perang terbesar bagi Belanda yang setidaknya harus mengorbankan 8 ribu pasukan dan biaya sebesar 25 juta gulden atau setara 2,2 miliar dollar Amerika Serikat.

pangeran diponegoro

Nah, di balik sosoknya yang begitu dahsyat sebagai seorang pejuang, ada banyak fakta-fakta unik dan menarik tentang Pangeran Diponegoro. Salah satunya adalah tentang kebiasaan merokok.

Ya, usut punya usut, ternyata Pangeran Diponegoro adalah seorang perokok.

Hal tersebut diungkap oleh Sejarawan Inggris Peter Carey melalui bukunya “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)”, yang mana merupakan versi singkat dari buku “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama Jawa, 1785-1855” (tiga jilid setebal 1.456 halaman).

pangeran diponegoro

Peter Carey menyebutkan bahwa rokok yang biasa dihisap oleh Diponegoro adalah rokok yang dikenal sebagai rokok Jawa yang merupakan sigaret tebal yang dilinting sendiri dengan tangan, sejenis cerutu yang terbuat dari tembakau lokal yang dibungkus klobot jagung.

pangeran diponegoro

Kalau jaman sekarang, mungkin sejenis rokok klobot.

Kebiasaan merokok ini menjadi semacam pendamping bagi kebiasaannya yang lain yaitu memamah sirih.




Srintil, Tembakau Primadona dari Temanggung

Tak bisa dibantah, bahwa salah satu yang membuat Temanggung punya citra sebagai penghasil tembakau terbaik di Indonesia salah satunya adalah karena tembakau jenis srintil.

tembakau

Srintil bukan sembarang tembakau, ia adalah tembakau super spesial. Tembakau jenis ini punya aroma dan rasa yang sangat keras dan berat, sebab ia punya kandungan nikotin antara 3-8 persen. Tak heran jika ia kemudian menjadi tembakau pilihan yang banyak diburu oleh para pencinta rokok berkelas.

tembakautembakau

Dengan segala keistimewaan yang dipunyianya, wajar jika srintil kemudian punya banderol yang sangat tinggi. Ia bisa dihargai antara 600 ribu - 1 juta per kilogram rajang kering. Sebagai perbandingan, harga rata-rata tembakau biasa per rajang keringnya hanya berkisar antara 40 - 125 ribu.



Tembakau srintil punya rasa yang begitu kuat, sehingga banyak pabrikan rokok yang berlomba-lomba membeli tembakau jenis ini dan menggunakannya sebagai campuran tembakau lain. Itu pula yang kemudian membuat srintil kerap disebut sebagai tembakau lauk.

Tembakau srintil tak ubahnya seperti pulung atau peruntungan. Sebab, tembakau srintil hanya bisa didapatkan di lahan-lahan tertentu, dan di waktu-waktu tertentu. Lahan yang pada satu masa panen menghasilkan tembakau srintil, belum tentu di tahun berikutnya akan menghasilkan tembakau srintil kembali.

tembakau


Bagi banyak petani tembakau di Temanggung, srintil merupakan kuasa Ilahi. Sampai sekarang, belum ada petani atau ahli yang tahu pasti, bagaimana caranya menghasillkan tembakau srintil.

Srintil masih tetap menjadi rahasia ciptaan alam. Entah sampai kapan.




Cerita di Balik Foto Legendaris Bung Karno Berbagi Api Rokok dengan Khrushchev

Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno punya gaya khusus ketika sedang bertemu dan berbincang dengan pemimpin negara lainnya. Salah satunya dengan Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Khrushchev saat si pemimpin besar Soviet itu mengadakan kunjungan ke Indonesia pada pertengahan Maret 1960.

soekarno Khrushchev

Dalam salah satu acara jamuan makan malam yang berlangsung di Istana Tampaksiring, Bali, keduanya tampak begitu akrab. Keakraban tersebut terlihat jelas tatkala keduanya saling menghidupkan rokok dengan menempelkan kedua ujungnya tanpa menggunakan korek api. Ada kepercayaan dan hal yang diyakini, ketika seseorang sudah biasa menyambung rokok maka keduanya terasa seperti sahabat karib

Momen tersebut diabadikan oleh Wartawan foto dan kamudian langsung menjadi salah satu foto legendaris dan ikonik bagi kedua sosok pemimpin tersebut. Soekarno memang sosok yang tak bisa dibantah cukup dekat dengan rokok. Ia kerap menjadikan rokok sebagai instrumen berdiplomasi.

rokok

Foto itu kemudian kerap digunakan sebagai pelengkap narasi keakraban bangsa Indonesia dan Uni Soviet yang dulu memang pernah dalam fase yang mesra-mesranya. Apalagi di Uni Soviet, berlaku semacam budaya di mana ketika dua orang yang berbagi minum vodka dan saling menyambung rokok, maka keduanya sudah bagaikana saudara.

soekarno merokok

Bagi Soekarno, merokok bersama pemimpin-pemimpin negara lain ini tentu saja bukan yang pertama. Bung Karno memang sering terlihat akrab merokok dengan banyak pemimpin negara lain, tokoh-tokoh penting pemimpin negara lain. Selain dengan Nikita Khrushchev, Bung Karno pernah difoto sedang membantu menghidupkan rokok Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru dalam konferensi gerakan non blok pada tahun 1960 di Beograd, Yugoslavia.




Argumen Cak Nun dan Gus Muwafiq Membolehkan Rokok

Banyak ulama dan juga tokoh yang sacara terang-terangan mendukung pengharaman rokok, namun tak sedikit pula yang menolak dan memilih membolehkan rokok karena alasan tertentu.

penjual rokok

Muhammad Ainun Najib atau kerap disapa Cak Nun dan Gus Muwafiq adalah salah dua tokoh yang pendapatnya membolehkan rokok.

Gus Muwafiq berpendapat bahwa banyak kiai, utamanya NU tidak ikut dengan fatwa rokok haram karena pengharaman rokok punya risiko yang besar.

gus muwafiq

ia berpendapat bahwa rokok sejatinya tidak ada hukumnya, sehingga hukum fikih apa saja yang kemudian menyertainya boleh-boleh saja.

Namun, jika kemudian rokok diharamkan begitu saja, maka ia akan berpengaruh pada banyak keharaman yang lain.

“Jika rokok diharamkan, seluruh proses produksi yang berhubungan dengan rokok ikut haram,” kata kiai asal Jogja ini. “Tanam tembakau nanti dosa, panen tembakau dosa, merajang tembakau dosa, jual rokok dosa, dosa semua.”

rokok

Yang paling berat, menurut Gus Muwafiq adalah konsekuensi hukum haram, terlebih bagi orang Indonesia yang memang salah satu sumber APBN-nya dari rokok.

“Kalau rokok haram, ada 74 triliun uang APBN yang ikut haram, kalau APBN haram, pembangunan jalan juga ikut haram.” ujar Gus Muwafiq.

Tak ubahnya dengan Gus Muwafiq, Cak Nun juga memberikan pandangan yang terbuka tentang hukum rokok.

cak nun

menurut Cak Nun, rokok seharusnya memang dikembalikan pada hukum fikih.

Ia mengatakan boleh seorang ulama menyimpulkan rokok sebagai makruh, menyimpulkan sebagai haram juga boleh, ulama lain menyimpulkan tidak juga boleh. Setiap orang punya hak untuk menentukan hidupnya masing-masing, dan itu dupertanggungjawabkan pada Allah, bukan pada ulama.

Cak Nun mengatakan, soal rokok, orang tahu dengan kondisi tubuhnya sendiri-sendiri. Sehingga, silakan saja kalau ingin merokok, silakan juga kalau ingin tidak merokok. Bebas.




374 Ritel di Repok Mulai Dilarang Memajang Display Rokok

Lagi-lagi diskriminasi terhadap para perokok melalui pengelola toko ritel yang menjual rokok kembali terjadi. Setelah sebelumnya kota Bogor melarang para penjual rokok untuk memajang display rokok, sekarang giliran Depok yang menerapkan aturan tersebut.

bungkus rokok

“Ada sekitar 374 ritel yang ada di Kota Depok dilarang memasang display atau iklan rokok sesuai Surat Edaran Walikota Depok Mohammad Idris, No. 300/357-Satpol PP kepada pelaku/pengelola/penanggungjawab usaha se-Kota Depok mulai 19 September 2018 termasuk peraturan daerah (Perda) No. 3 tahun 2014 tentang kawasan Tanpa Rokok (KTR),” ujar Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok Yayan Arianto, Senin (1/10/2018) saat diwawancarai jurnalis poskotanews.

penjual rokok

Menurut Yayan, surat himbauan itu secara bertahap akan dilakukan ke agen-agen dan toko tradisional, namun sekarang pihaknya hanya melakukan di pusat belanja termasuk mini market.

Kegiatan ini sebagai salah satu bentuk upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sehingga terhindar dari bahaya asap rokok terlebih kalangan anak-anak dan remaja yang menjadi sasaran industri rokok dari pengaruh iklan dan promosi rokok yang belakangan makin mengkhawatirkan.

rokok

Kebijakan ini tentu saja merupakan kebijakan yang tak tepat guna dan tak efektif jike memang alasan penerapannya adalah untuk menurunkan angka perokok di bawah umur. Toh, riset mengenai jumlah perokok di bawah umur tak pernah dipublikasikan. Rokok selalu dijadikan kambing hitam atas rusaknya kesehatan generasi muda. Padahal kalau kita lihat secara sederhana, ada banyak produk lainnya yang bisa dikonsumsi secara bebas dan gampang didapatkan seperti miras atau kondom.

Aturan untuk melarang display rokok ini tentu saja menjadi polemik tersendiri. Maklum saja, sebab menurut Putusan MK Nomor 54/PUU-VI/2008 dan 6/PUU-VII/2009, rokok merupakan produk yang legal, sehingga ia punya hak untuk tetap diiklankan.

Mahkamah menegaskan putusan MK bernomor 19/PUU-VIII/2010 bertanggal 1 November dan peraturan perundang-undangan lainnya tidak pernah menempatkan rokok sebagai produk yang dilarang untuk dipublikasikan. Terlebih, tidak ada larangan diperjualbelikandantidak pernah menempatkan tembakau dan cengkeh sebagai produk pertanian yang dilarang.

rokok

Langkah yang tepat untuk menurunkan angka perokok di bawah umur seharusnya adalah melalui edukasi, bisa melalui keluarga, pedagang, sampai lingkungan sekolah. Bukan malah melarang pedagang untuk mempromosikan dagangan miliknya yang seharusnya legal.




Setelah Bogor, Kini Giliran Depok yang Menetapkan Aturan Aneh Melarang Display Rokok di Minimarket

Mulai hari Kamis lalu 27 September 2018, Kota Depok resmi melarang adanya display penjualan rokok, mengiklankan rokok, dan mempromosikan rokok pada toko-toko ritel dan minimarket. Setiap display yang ada di minimarket harus ditutup dengan kain putih atau tirai yang bertuliskan di sini sedia rokok.

penjual rokok

Aturan ini hampir sama dengan aturan yang beberapa waktu yang lalu ditetapkan oleh Kota Bogor. Pelarangan display penjualan rokok ini didasarkan pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok No 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

orang merokok

Wali Kota Depok Mohammad Idris mengeluarkan Surat Edaran bernomor 300/357-Satpol PP kepada pelaku/ pengelola/ penanggungjawab usaha se-Kota Depok per tanggal 19 September 2018. Hari ini, Surat Edaran tersebut resmi dilaksanakan di 374 ritel modern secara serentak.

Aturan untuk melarang display rokok ini tentu saja menjadi polemik tersendiri. Maklum saja, sebab menurut Putusan MK Nomor 54/PUU-VI/2008 dan 6/PUU-VII/2009, rokok merupakan produk yang legal, sehingga ia punya hak untuk tetap diiklankan.

bungkus rokok

Mahkamah menegaskan putusan MK bernomor 19/PUU-VIII/2010 bertanggal 1 November dan peraturan perundang-undangan lainnya tidak pernah menempatkan rokok sebagai produk yang dilarang untuk dipublikasikan. Terlebih, tidak ada larangan diperjualbelikandantidak pernah menempatkan tembakau dan cengkeh sebagai produk pertanian yang dilarang.

Maka, tak berlebihan jika kemudian penetapan aturan tentang display rokok di kota Depok ini diperkirakan akan memicu banyak protes, utamanya dari para pengusaha, serta pedagang kecil yang selama ini memang mengandalkan rokok sebagai dagangan utamanya.