Pentingnya Memahami Sejarah dan Perkembangan Cukai Rokok



Cukai rokok diatur dalam Undang-undang Cukai Nomor 36 Tahun 2007. Cukai rokok berperan penting bagi pendapatan negara, kontribusinya mencapai 11 persen dari total APBN.

Apa itu cukai rokok?

Cukai rokok merupakan pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat dan karakteristik tertentu, yaitu: konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.

Manfaat cukai rokok dapat dirasakan oleh kita semua, mulai dari pembangunan, perekonomian, ketenagakerjaan, pertanian hingga kesehatan. Pemanfaatan cukai rokok juga diamanatkan dalam dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT).

Alokasi pembagian dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) Sebesar 50% dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian, industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi cukai, dan sebagainya. Kesehatan termasuk di dalam pembinaan lingkungan sosial. Sedangkan 50% lainnya dimanfaatkan untuk pembangunan daerah penerima DBHCHT.

Asal-usul cukai rokok dimulai dari kebangkitan industri kretek di tanah air. Pasca kretek ditemukan oleh Djamhari di Kudus, antara 1870-1880, kretek menjadi tren dikonsumsi oleh masyarakat. Kemunculan industri kretek dipelopori oleh sang raja kretek Nitisemito. Industri kretek pada perembangannya semakin tumbuh, mulai dari home industry hingga perusahaan besar. Berdasarkan penelitian Van der Reijden pada 1935 melaporkan, di Kudus saja pada 1932 sudah ada 165 pabrik.

Van der Rijden menyatakan, pada 1931 produksi rokok putih mencapai 7.100.000.000 batang per tahun. Sedang produksi rokok kretek 6.422.500.000 batang,” tulis Rudy Badil dalam buku Kretek Djawa.

Lantas, pemerintah kolonial ambil sikap dan membedakan cukai produk rokok putih dan asli ini, dengan mengeluarkan Staadsblad Nomor 427 Tahun 1935, yang mengatur soal harga eceran minimum rokok putih, untuk tak menekan industri rakyat kecil. Menurut buku tersebut, kretek pun dianggap komoditas unggulan dan penyerap tenaga kerja, serta menyumbang cukai untuk kas negara.
Menurut Gugun El Guyanie, dkk dalam buku Ironi Cukai Tembakau: Karut-marut Hukum dan Pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Indonesia, awalnya cukai tembakau di masa kolonial diatur melalui Staatsblad Nomor 517 Tahun 1932, kemudian Staatsblad Nomor 560 Tahun 1932, dan terakhir Staatsblad Nomor 234 Tahun 1949 tentang Tabaksaccijns Ordonnantie (Ordonansi Cukai Tembakau).


Usai kemerdekaan, Indonesia kemudian menerbitkan aturan pungutan cukai tembakau, yang dituangkan dalam Undang-undang Darurat Nomor 22 Tahun 1950 tentang Penurunan Cukai Tembakau.

Peraturan ini merevisi ordonansi tanggal 1 September 1949 (Staatsblad Nomor 234). Gugun El Guyanie, dkk dalam Ironi Cukai Tembakau menyebutkan, peraturan ini mengatur harga jual eceran, penurunan pungutan cukai, dan penetapan golongan pengusaha tembakau yang diberi beban membayar cukai.
Kemudian, terbit Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1951 tentang perubahan tabaksaccijnsverordening (peraturan cukai tembakau) (Staatsblad Nomor 560). Gugun, di dalam buku yang sama menulis, peraturan ini mengatur penetapan besarnya pungutan cukai hasil tembakau, dengan cara melekatkan pita cukai warna-warni yang beragam di beberapa jenis atau penggolongan hasil tembakau yang diproduksi.
Lantas, terbit Undang-undang Nomor 16 Tahun 1956 tentang Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau (Staatsblad Nomor 517). Aturan ini ditetapkan dengan tujuan mengurangi dampak makin banyaknya perusahaan rokok yang bangkrut, akibat tingginya cukai tembakau.

Pemerintah sengaja menggelontorkan subsidi untuk perusahaan-perusahaan rokok, berupa penurunan dan pembebasan cukai bagi pengusaha rokok selama setahun. Peraturan ini menetapkan cukai dari setiap batang rokok.

Di masa Orde Baru, dikeluarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang cukai. Kemudian, Undang-undang ini diatur dalam peraturan pemerintah, seperti PP Nomor 24 Tahun 1996 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi di Bidang Cukai, PP nomor 25 Tahun 1996 tentang Izin Pengusaha Barang Kena Cukai, dan PP Nomor 55 Tahun 1996 tentang Penyidikan Tindak Pidana Bidang Kepabeanan dan Cukai.

Setelah Orde Baru tumbang, keluar Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Menurut buku Ironi Negeri Tembakau, cukai hasil tembakau kini dimasukkan ke dalam perhitungan dana bagi hasil, antara pemerintah pusat dan daerah penghasil tembakau. Sehingga lahir istilah dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT).
Penting bagi kita untuk memahami sejarah perkembangan cukai dikarenakan saat ini cukai dijadikan alat untuk membunuh kretek oleh kelompok antitembakau dengan mendorong pemerintah menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya.





Tembakau Unggulan Dari Pulau madura

Pada saat ini, Industri Hasil Tembakau (IHT) membutuhkan sekitar 85 persen produk tembakau lokal sebagai bahan baku. Bahan baku lokal tembakau itu salah satunya berasal dari pulau Madura. Sejarah pernah mencatat bahwa sejak jaman kolonial Pulau Madura menjadi salah satu sentra penghasil tembakau unggulan di negeri ini. Karena ketersediaan lahan dan kondisi tanahnya sangat cocok ditanami oleh tanaman tembakau. Bahkan di jaman kolonial itu pula para ahli tanaman tembakau dari Madura ada yang dikirim ke Deli Serdang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, dan Banyuwangi untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan tembakau yang baru dibuka oleh Belanda.

Kondisi lahan dan tanahnya yang cocok dengan tanaman tembakau membuat Pulau Madura menghasilkan begitu banyak jenis tembakau lokal. Setiap wilayah menghasilkan tembakau yang berbeda-beda jenisnya. Tetapi sejak pihak pabrikan rokok kretek meminta spesifikasi kualitas tertentu terhadap tembakau Madura maka seleksi kualitas unggulan terhadap tembakau Madura pun dilakukan.

Saat ini terdapat tiga jenis tembakau yang telah memenuhi standar kualitas pabrikan yang ditanam di Pulau Madura yakni Prancak-95, Cangkring-95, dan Prancak N-1. Semua jenis tembakau itu dikontrol langsung oleh Departemen Pertanian di bawah pengawasan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (BALITTAS).

Varietas tembakau yang mula-mula dikembangkan oleh BALITTAS dari berbagai varietas lokal Madura adalah Prancak-95 dan Cangkring-95.

Dua tembakau ini resmi dikeluarkan berdasar keputusan dari SK Mentan No.731/Kpts/TP.240/7/97 dan SK Mentan No.732/Kpts/TP.240/7/97. Sedangkan Prancak-95 dikembangkan lagi menjadi varietas Prancak N-1 dengan cara disilangkan dengan tembakau oriental agar menghasilkan tembakau beraroma khas, bernikotin rendah, dan memenuhi standard rokok kretek. Prancak N-1 resmi dikeluarkan lewat keputusan SK Mentan No.320/Kpts/SR.120/5/2004.

Daun tembakau Prancak-95 berbentuk bulat telur dengan tampilan permukaan mengerucut. Tepian daunnya rata. Satu batang tanaman tembakau Prancak-95 menghasilkan 12 hingga 18 helai daun. Dalam masa tanaman 54 hingga 74 hari Prancak-95 akan berbunga dan siap panen saat berusia 84 hingga 104 hari usai masa tanam. Dalam satu hektar lahan yang ditanami Prancak-95 menghasilkan tembakau rajangan sebanyak 813 kilogram. Indeks mutu mencapai 83,47 dengan ketahanan terhadap penyakit sangat tinggi.

Sementara Cangkring-95 memiliki tampilan keseluruhan tanaman berbentuk kerucut dengan penampakan daun tengahnya lonjong dengan tepian daun rata. Mirip dengan Prancak-95. Dalam satu batang tanaman Cangkring-95 terdapat antara 12 hingga 17 helai daun. Dalam usia antara 51 hingga 68 hari usai masa tanam Cangkring-95 akan berbunga dan siap petik pada usia 81 hari hingga berakhir sekitar 94 hari. Dalam satu hektar lahan yang ditanami Cangkring-95 akan menghasilkan 667 kilogram tembakau rajangan dengan indeks mutu 81,84. Cangkring-95 cukup tahan terhadap hama penyakit.

Sedangkan varietas Prancak N-1 memiliki perbedaan pada tepian daunnya yang bergelombang. Sementara tampilan permukaan daunnya sama dengan dua jenis varietas sebelumnya yakni mengerucut. Setiap batang tanaman tembakau Prancak N-1 memiliki jumlah  antara 13 hingga 15 helai daun dan akan berbunga pada usia 56 hingga 58 hari usai masa tanam. Prancak N-1 siap dipetik pada usia 84 hingga 90 hari usai masa tanam. Satu hektar lahan yang ditanami Prancak N-1 menghasilkan 892 tembakau rajangan. Sama seperti Cangkring-95, Prancak N-1 juga tahan terhadap hama penyakit.

Ketiga jenis varietas ini menjadi tanaman tembakau unggulan yang dihasilkan dari Pulau Madura. Namun seiring perkembangan selera rokok kretek di negeri ini, tentu akan memacu inovasi, pembaharuan jenis varietas tanaman tembakau yang lebih berkualitas, yang tahan terhadap penyakit, juga kuantitas produksi tanaman tembakau yang terjaga,  dan menjadi titik pijak bagi munculnya varietas-varietas baru yang bibitnya diambil dari beragam jenis tembakau lokal Madura.





Kesaksian W. S. Rendra tentang Kretek


W. S. Rendra, pemerhati budaya yang mendapat julukan Burung Merak tersebut ternyata memiliki perhatian terhadap nasib industri pertembakauan, rakyat, dan nasionalisme.

Melalui kesaksiannya pada Selasa, 28 April 2009, ia memberikan kesaksiannya sebagai ahli perwakilan pemerintah dalam Sidang Mahkamah Konstitusi Perihal Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 Terhadap Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam kesaksiannya, Rendra menerangkan muasal dan perjalanan tembakau di Indonesia, yang mana sampai sekarang baik petani, produsen, dan konsumennya tinggal dalam negeri.

“Tembakau itu tanaman asing yang dipaksakan ditanam di Indonesia untuk pembentukan modal bagi kekuatan merkantilisme dan industri di negeri Belanda yang waktu itu menjajah Indonesia… Orang Indonesia menanam tanaman-tanaman seperti kopi termasuk tembakau dan lain sebagainya tanpa dia bisa mengekspornya sebagai tanaman yang sangat menguntungkan perdagangan luar negeri,” terang Rendra.

Ia mengapresiasi, kreatifitas orang Indonesia dari sudut pandang kebudayaan. Menurutnya, daya adaptasi bangsa Indonesia yang ternyata bangsa yang tidak asli, bahasanya tidak asli, tanaman tidak asli, tetapi toh bisa diadaptasi dengan kreatif.

"Tetapi kreativitas dari para leluhur dan para penduduk Indonesia luar biasa. Tembakau dicampur dengan klembak, tembakau dicampur dengan cengkeh, menjadi rokok klembak, menjadi rokok cengkeh dan ini suatu kreativitas yang luar biasa.”


Anda bisa menyimak kesaksian W.S. Rendra tentang kretek di https://youtu.be/o9GM78nw1t4




Ditemukan Hisap Rokok Elektrik di Toilet Pesawat, Seorang Penumpang Dilarang Naik Pesawat Seumur Hidup



Nasib buruk menimpa seorang penumpang berusia 30 tahun yang menaiki Spirit Airlines saat penerbangan dari Detroit ke New Orleans. Sebab penerbangan itu bakal menjadi penerbangan terakhirnya dengan Spirit Airlies setelah pihak manajemen maskapai penerbangan memberikan sanksi blacklist seumur hidup.

Pasalnya, lelaki paruh baya tersebut diketahui menyalakan rokok elektrik di toilet pesawat dengan nomor penerbangan NK 985.

Menurut juru bicara maskapai, Kapten Jefferson Parish Sheriff dan Kapten Jason Rivarde, penumpang tersebut telah diingatkan sebelumnya untuk tidak menghisap rokok di dalam pesawat yang membuat alarm tanda bahaya menyala.

Namun, sayangnya penumpang tersebut tetap menyangkal bahwa dirinya merokok di toilet pesawat.

Meski demikian, pihak keamanan langsung menahannya dan laki-laki itu diberi sanksi tegas yakni tidak bisa melakukan penerbangan dengan Spirit Airlines seumur hidup.




Tradisi Suwuk Pengantin Menggunakan Asap Rokok


Beberapa waktu lalu nitizen ramai menyoal video pengantin yang disembur asap rokok. Sebenarnya, tradisi ini memang ada dalam laku tata rias pengantin. Proses macam itu umumnya disebut Sembaga. Istilah populer lainnya sama dengan di-suwuk atau diobati.


Medium suwuk sendiri banyak pilihannya, tidak hanya asap rokok. Umumnya dengan air yang sudah dirapali doa-doa, atau pula mengunakan rajah. Namun, untuk pengantin tak mungkin disembur oleh air, bisa berantakan riasan.

Suwuk dengan medium asap merupakan tradisi leluhur yang telah lama dipraktikkan untuk pengobatan. Belakangan praktik pengobatan ini digunakan lagi oleh Prof Gretha Zahar. Dia menggunakan asap rokok dan metode balur sebagai teknik pengobatannya. Asap rokok dimanfaatkan sebagai sarana penyembuh.




Taruh Korek Api di Atas Bungkus Rokok Bila Tidak Mau Berbagai Rokok Sama Temanmu

Pertanda-pertanda kecil ada di antara perokok. Salah satunya yang perlu kamu ketahui ialah tanda pemantik ditaruh oleh pemiliknya di atas bungkus rokok.

Di daerah-daerah tertentu, tanda ini merupakan bentuk eksklusifitas atau tidak mau berbagai rokok kepadamu atau teman nongkrong lain.

Jadi, sebaiknya minta izin dulu bila kamu kehabisan rokok dan hendak meminta rokok yang di atasnya ditaruh korek api.

Namun, bagimu yang masuk ke komunitas atau lingkungan sosial yang menerapkan aturan ini, informasi ini menjadi penting. Bila hendak membuka ruang berbagai rokok, maka sebaiknya dihindari untuk meletakkan korek api di atas bungkus rokok.

Salah-salah tanpa disadari, kamu bisa dianggap oleh lingkungan sosialmu sebagai orang yang pelit.






Tradisi Among Tebal Awali Tanam Tembakau Masyarakat Lereng Gunung Sumbing Temanggung

BUNGKUS ROKOK
Kabut tebal menyelimuti kawasan tegalan Ndeles di lereng Gunung Sumbing wilayah Desa Legoksari Kecamatan Bulu Temanggung ketika petani menggelar ritual Among Tebal sebagai mengawali menanam tembakau.

Ritual diawali dengan berdoa di lahan pertanian masing-masing, secara pribadi atau keluarga. Jajan pasar, jenang dan bunga tujuh rupa tersaji di tengah lahan pertanian, tidak lupa sebelum berdoa membakar kemenyan.
BUNGKUS ROKOK

Usai berdoa pada Tuhan yang Maha Esa dalam menanam, memelihara, hingga panen tembakau, petani selanjutnya menuju ke sebuah tanah lapang yang dikenal Sekinjeng untuk berdoa bersama.

Tumpeng golong gilig, ingkung ayam jantan, jenang, jajan pasar, berbagai buah dan hasil pertanian disajikan di atas tikar. Sajian ini lengkap dan dalam jumlah besar. Di lokasi tersebut petani berdoa bersama untuk keselamatann warga, dengan dipimpin tokoh agama setempat, yang dilanjut makan bersama.
BUNGKUS ROKOK

Among Tebal adalah warisan budaya nenek moyang yang tidak bisa ditinggalkan. Ritual tersebut memilii nilai-nilai kearifan lokal. Masyarakat setempat menggelar Among Tebal sebelum bertanam tembakau dan palawiya.